WNI Hongkong Prihatin ada Buruh Migran Terlibat Radikalisme

0

HONGKONG, Voiceofjabar.com – Aliansi Kebangsaan untuk Indonesia “AKU INDONESIA” dengan dukungan dari Konsulat Jenderal Republik Indonesia dan berbagai pihak lainnya menyelenggarakan kuliah umum kebangsaan, Minggu, (20/08) dan dihadiri oleh lebih dari 800 orang WNI yang saat ini sedang bekerja atau menetap untuk sementara di Hongkong.

Kuliah Umum kebangsaan ini diselenggarakan dalam rangka merespon keprihatinan akan adanya informasi keterlibatan Buruh Migran Indonesia di Hong Kong yang telah turut serta mendukung langsung ataupun tidak langsung gerakan terorisme dan aksi-aksi kekerasan berbasis agama, suku, dan pandangan politik.

Hadir dalam acara, Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi mengantarkan materi dari perspektif budaya. Dedi menjelaskan bahwa Indonesia merdeka karena banyaknya orang berkorban jiwa dan raga dan harga diri bangsa hanya bisa kembali tegak dengan adanya orang-orang yang mencintai Indonesia.

“Termasuk mengenai watak materialisme yang juga turut serta mengaburkan nilai-nilai kebangsaan, karenanya manusia menjadi lupa akan jati diri bangsa,”kata Dedi.

Karyono Wibowo, peneliti senior Indonesia Public Institute (IPI) yang juga Ketua DPP Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (PA GMNI) lebih lanjut menjelaskan tentang empat prinsip kebangsaan yang harus menjadi pedoman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Empat prinsip kebangsaan tersebut adalah Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika.

Menurut Karyono, untuk mencegah radikalisme-eksktrimis dan terorisme diperlukan sikap tegas pemerintah. Dalam konteks ini, pemerintah sudah menunjukkan sikap tegas dengan menerbitkan PERPPU NO.2/2017 tentang Ormas. Ketegasan pemerintah yang membubarkan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) karena memiliki tujuan politik yang bertentangan dengan ideologi dan konstitusi negara Perlu diapresiasi.

“Namun yang perlu diantisipasi adalah pergerakan pasca pembubaran HTI. Upaya pembubaran dan pencabutan status badan hukum bukan berarti masalahnya selesai karena hal ini berhubungan dengan keyakinan ideologi yang tidak mudah diredam begitu saja,”tandasnya.

Oleh karena itu, kata dia, untuk mencegah radikalisme-ekstrimis dan terorisme diperlukan pula pendekatan persuasif dan edukatif. Untuk itu, ia mengusulkan pentingnya revitalisasi Pancasila agar bangsa Indonesia tetap memiliki daya tahan dan tidak mudah digoyahkan.

Sementara itu Haerul Amri, Wakil Ketua Umum Gerakan Pemuda Ansor mengajak peserta untuk mengingat sejarah gerakan Islam di Indonesia dan kontribusinya dalam memerdekakan dan mendirikan bangsa Indonesia. Untuk itu ia juga mengingatkan bahwa NKRI berdasarkan Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika adalah capaian final perjuangan seluruh rakyat Indonesia termasuk umat Islam.

“Seluruh aspirasi umat Islam harus diletakkan dalam kerangka NKRI sebagai mu’âhadah wathaniyyah (konsensus nasional) yang harus dijaga dan pertahankan sampai kapan pun,”katanya.

Kuliah umum ditutup dengan pembacaan Deklarasi Kebangsaan yang dibacakan oleh salah satu Buruh Migran Indonesia dan diikuti oleh seluruh peserta yang hadir.

Dalam deklarasi tersebut, seluruh peserta yang hadir bersama-sama bertekad dan mengajak seluruh komponen bangsa Indonesia untuk dapat bahu membahu menanamkan dan mengejawantahkan jiwa dan semangat patriotik dengan berlandaskan pada nilai-nilai luhur Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945 dan Bhinneka Tunggal Ika dalam rangka menegakan keberlangsungan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Selain itu, WNI Hong Kong mengecam keras seluruh aktivitas terorisme dan menolak segala bentuk kekerasan berbasis agama, pandangan politik, suku, atau atas dasar perbedaan lainnya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. (ty)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here