Upacara Adat “Nyangku” dan Mitos Maung Panjalu

0

Ciamis, Voiceofjabar.com –Setiap hari Senin atau Kamis terakhir di Bulan Maulud (Rabiul Awal), upacara adat Nyangku (pencucian benda pusaka) di alun-alum Panjalu, Ciamis kembali digelar, Senin, (27/12). Ritual tersebut sudah turun-temurun dilakukan warga Panjalu sebagai rasa syukur atas  jasa Raja Panjalu Prabu Sanghyang Borosngora yang berhasil membumikan Islam di Tatar Galuh.

Ritual Nyangku diawali dengan berziarah ke makam raja di Situ Lengkong, Panjalu. Kemudian dilanjutkan dengan pencucian benda pusaka peninggalan raja.

Adapun beberapa benda pusaka yang disimpan di sini antara lain pedang yang konon berasal dari pemberian Baginda Ali RA, berfungsi sebagai alat untuk membela diri. Cis atau berupa tombak bermata dua (dwisula), berfungsi sebagai senjata dan kelengkapan dalam berkhutbah.

Keris komando raja pegangan Raja Panjalu. Keris pegangan para Bupati Panjalu. Pancaworo, senjata perang pada zaman dahulu.

Bangreng, senjata perang pada zaman dahulu. Gong kecil, untuk mengumpulkan rakyat pada zaman dahulu. Kujang peninggalan petapa sakti bernama Pendita Gunawisesa Wiku Trenggana (Aki Garahang) yang diturunkan kepada para Raja Panjalu. Pada masa pemerintahan Raden Tumenggung Wirapraja (akhir abad XVII) bangunan Bumi Alit dipindahkan ke Dayeuh Panjalu seiring dengan perpindahan kediaman Bupati Tumenggung Wirapraja ke Dayeuh Panjalu. Pasucian Bumi Alit saat ini terletak di Kebon Alas, Alun-alun Panjalu.

Mitos Maung Panjalu

Selain dikenal berkat Situ Lengkong dan Upacara Adat Nyangku, Panjalu Ciamis juga dikenal dengan mitos “Maung Panjalu”-nya (maung = harimau dalam bahasa Sunda). Mitos ini berkembang di kalangan masyarakat Panjalu zaman dulu dan mungkin masih dipercaya oleh sebagian orang hingga saat ini.

Konon, orang Panjalu yang keturunan “Maung Panjalu” dicirikan dengan kuku tangannya yang mirip kuku harimau dan apabila bertemu dengan harimau betulan, maka si harimau betulan akan ketakutan.  Tapi entahlah

Pernikahan Dua Kerajaan

Mitos Maung Panjalu berasal dari cerita babad, yaitu Babad Panjalu. Alkisah seorang putri kerajaan Sunda (Pajajaran) bernama Dewi Sucilarang dipinang oleh seorang pangeran dari Majapahit bernama pangeran Gajah Wulung.  Setelah menikah, sang putri pun diboyong ke Majapahit oleh sang suami yang disebut dalam kisah tradisional sebagai putra prabu Brawijaya.

Beberapa waktu kemudian sang putri mengandung.  Nampaknya ia tak terlalu betah di Majapahit. Maka ketika kandungannya mendekati usia melahirkan, ia meminta ijin untuk dapat melahirkan di tanah kelahirannya di Sunda.

Meski berat hati, Pangeran Gajah Wulung mengijinkan permintaan sang istri.  Maka diperintahkanlah sepasukan untuk mengantar Dewi Sucilarang ke Pajajaran. Menjalani perjalanan yang sangat panjang tersebut, di tempat-tempat yang aman dan nyaman rombongan kerap berhenti untuk beristirahat.

Hal tersebut juga dilakukan ketika memasuki kawasan hutan Panumbangan yang pada saat itu masuk wilayah Kerajaan Panjalu.  Di sebuah tempat iring-iringan memutuskan untuk mendirikan tenda.

Tak diduga, di tempat tersebut sang putri melahirkan sepasang anak kembar.  Meski dalam keadaan darurat, kedua bayi dapat dilahirkan dengan selamat. Yang laki-laki kemudian dinamakan Bongbang Larang dan yang perempuan dinamakan Bongbang Kancana.

Selesai persalinan, ari-ari kedua bayi dimasukan ke dalam sebuah pendil tanah liat dan diletakan di atas sebuah batu besar.  Beberapa hari kemudian, rombongan melanjutkan perjalanan hingga sampai di keraton Pajajaran.

Meninggalkan Kerajaan

Kedua anak kembar tersebut kemudian tumbuh di Keraton Pajajaran.  Prabu Siliwangi sang kakek sangat menyayangi mereka.  Namun semakin beranjak remaja ada perasaan yang terus menggangu pikiran mereka, yaitu keinginan untuk bertemu dengan sang ayah di Majapahit.

Karena usia mereka yang masih kecil, sang kakek, Prabu Siliwangi, tidak mengijinkan keduanya untuk pergi. Menunggu hingga usia mereka dewasa.

Namun rasa penasaran terus menggangu pikiran kedua remaja tersebut.  Akhirnya keduanya sepakat untuk pergi dengan diam-diam.  Maka pada waktu yang telah ditentukan, berangkatlah mereka meninggalkan keraton menuju ke arah timur.

Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, mereka tiba di sebuah hutan belantara di kaki Gunung Sawal.  Karena merasa lelah dan haus, di tempat tersebut keduanya berhenti untuk beristirahat.

Ketika mencari sumber air, kedua remaja tersebut menemukan sebuah pendil di atas sebuah batu besar.  Ternyata pendil tersebut adalah adalah tempat menyimpan ari-ari mereka ketika lahir dulu.  Tentu saja mereka tak mengetahuinya.

Awal Bencana

Melihat pendil tersebut berisi air, Bongbang Larang yang sangat kehausan langsung meminumnya dengan mendekatkan pendil ke mulutnya.  Namun keajaiban terjadi.  Kepala pendil tersebut tiba-tiba membesar dan mencaplok kepala Bongbang Larang sehingga tidak bisa dilepas.

Kebingungan dengan apa yang terjadi, Bongbang Kancana kemudian menuntun sang kakak untuk mencari pertolongan.  Mereka berjalan terus ke arah timur sehingga bertemu seorang kakek bernama Aki Ganjar.  Oleh kakek tersebut keduanya disarankan untuk menemuni seseorang sakti yang tinggal di utara.

Orang tersebut bernama Aki Garahang.  Dia adalah seorang pendeta hindu bergelar Pandita Gunawisesa Wiku Trenggana.

Oleh Aki Garahang, pendil tersebut dipecahkan dengan sebuah kujang sehingga terbelah menjadi dua.  Konon kujang tersebut sampai kini masih tersimpan di Pasucian Bumi Alit.

Keajaiban kembali terjadi.  Pendil yang terbelah dua itu kemudian membentuk sebuah selokan dan kulah (kolam).  Selokan tersebut selanjutnya dinamakan Cipangbuangan, sedangkan kulah-nya dinamakan Pangbuangan.

Sebagai ungkapan terima kasih, kedua remaja kembar itu pun memutuskan untuk mengabdi di padepokan Aki Garahang sebelum melanjutkan perjalanan ke Majapahit.

Berubah Wujud

Suatu hari Aki Garahang hendak bepergian untuk sebuah keperluan.  Untuk itu ia menitipkan padepokannya kepada Bongbang Larang dan Bongbang Kancana.  Sebelum pergi sang pendeta berpesan agar kedua remaja tersebut tidak mendekati kulah Pangbuangan, yang letaknya tidak jauh dari padepokan tersebut.

Namun larangan itu tak diindahkan oleh kedua remaja tersebut.  Sepeninggal sang pendeta, keduanya tak bisa menahan diri untuk mendatangi kulah terlarang itu.

Kulah Pangbuangan ternyata sangat indah dan berair jernih.  Di dalamnya dipenuhi ikan berwarna-warni. Melihatnya, Bongbang Larang tak sabar untuk segera saja menceburkan diri ke dalam kulah itu sementara sang adik hanya membasuh kedua tangan dan wajah sambil merendamkan kedua kakinya.

Betapa terkejut keduanya kemudian.  Saat Bongbang Larang naik ke darat, wajah dan seluruh tubuhnya telah ditumbuhi bulu lebat seperti seekor harimau.  Demikian juga dengan Bongbang Kancana.  Ketika melihat tubuhnya di permukaan air, wajahnya telah berubah, sehingga tak sadar menceburkan diri ke dalam kulah.

Keduanya pun kini berubah menjadi dua ekor harimau kembar, jantan dan betina.

Kehendak Yang Kuasa

Ketika Aki Garahang pulang dan mendapati dua ekor harimau di padepokannya ia terkejut.  Hampir saja kedua harimau itu dibunuhnya karena dikira telah memangsa Bongbang Larang dan Bongbang Kancana.

Namun kemudian ia segera mafhum dengan apa yang terjadi.  Ia pun tak bisa berbuat apa-apa. Aki Garahang berpendapat bahwa kejadian itu sudah menjadi kehendak Yang Kuasa.

Aki Garahang kemudian menasihati keduanya dan berpesan agar mereka tidak mengganggu orang Panjalu beserta hewan peliharaannya. Bila melanggar, mereka akan mendapat kutukan darinya.

Terjerat Sulur Oyong

Kedua anak harimau jejadian itu kemudian berjalan tak tentu arah hingga sampai di Cipanjalu, yang merupakan kebun milik Keraton Panjalu yang ditanami aneka sayuran dan buah-buahan. Di bagian hilirnya terdapat pancuran tempat pemandian keluarga kerajaan.

Ketika sedang berjalan di kebun tersebut, kaki mereka tak sengaja terjerat oleh sulur-sulur tanaman paria oyong (sayuran sejenis terong-terongan) sehingga jatuh ke dalam gawul (saluran air tertutup terbuat dari batang pohon enau yang dilubangi) sehingga aliran air ke pemandian di bagian hilir tersumbat oleh tubuh mereka.

Keesokan harinya, Prabu Sanghyang Cakradewa terheran-heran ketika melihat pancuran di pemandiannya tidak mengeluarkan air. Ketika diperiksa, ia sangat terkejut melihat ada dua harimau kecil yang menyumbat saluran air.

Menjadi Pelindung Orang Panjalu

Hampir saja kedua harimau itu dibunuh oleh Sang Prabu karena khawatir membahayakan masyarakat. Namun setelah mengetahui bahwa keduanya adalah jelmaan putera-puteri Kerajaan Pajajaran, sang Prabu menjadi iba. Ia pun kemudian menyelamatkan keduanya dari himpitan saluran air.

Sebagai tanda terima kasih, kedua harimau itu bersumpah di hadapan sang prabu untuk tidak mengganggu orang Panjalu dan keturunannya. Bahkan bila diperlukan mereka bersedia datang menolong dan melindungi orang Panjalu yang berada dalam kesulitan.

Namun terdapat kekecualian.  Perlindungan tidak akan diberikan kepada mereka yang meminum air dengan cara menenggak langsung dari tempat air minum (teko, ceret, dsb.), yang menanam atau memakan paria oyong serta yang membuat gawul (saluran air tertutup).  Orang-orang tersebut, berhak menjadi mangsa harimau jejadian tersebut.

Selanjutnya kedua harimau kembar itu melanjutkan perjalanan hingga tiba di Keraton Majapahit dimana sang ayah ternyata telah bertahta sebagai raja.

Sang Prabu sangat terharu dengan kisah perjalanan kedua putera-puteri kembarnya. Ia kemudian memerintahkan Bongbang Larang untuk menjadi penjaga di Keraton Pajajaran, sedangkan Bongbang Kancana diberi tugas untuk menjaga Keraton Majapahit.

Pada waktu-waktu tertentu kedua saudara kembar ini diperkenankan untuk saling menjenguk.  Maka menurut kepercayaan masyarakat Panjalu jaman dahulu, kedua harimau itu akan berkeliaran untuk saling menjenguk pada setiap bulan Maulud.

Sumber: alampriangan

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here