Tom Harry: “Merubah Pola Pikir sama dengan Merubah Nasib”

0

Bandung, Voiceofjabar.com – Roda kehidupan terus berputar. Perubahan signifikan dari masa ke masa bergulir serba cepat tanpa henti. Seiring dengan itu, kebutuhan hidup pun meningkat dan tak bisa dihentikan. Bahkan pekerjaan yang tadinya dikerjakan secara konvensional oleh tenaga manusia kini sudah diambil alih oleh teknologi.

Dalam hal ini, manusia semakin kehilangan perannya. Oleh karena itu di era globalisasi digital dewasa ini manusia dituntut merubah cara pandang dan pola pikir agar belanja hidup tetap bisa ter-cover.

Uraian tersebut dipaparkan seorang pebisnis, Tom Harry kepada voiceofjabar.com saat dijumpai di kantornya di Bandung, Rabu, (29/11). Founder Tom Agency itu mengungkapkan bahwa ketika teknologi lebih banyak berperan, dengan sendirinya peluang pekerjaan bagi manusia semakin sulit bahkan kerap menimbulkan masalah besar.

“Artinya trend manusia yang tadinya berbondong-bondong mencari pekerjaan menjadi sulit sehingga mengakibatkan menumpuknya sarjana pengangguran,”katanya.

Ia mencontohkan salah satu perubahan yang terjadi akhir-akhir ini adalah kehadiran ojek online. Hanya bermodalkan aplikasi, tukang ojek tak perlu mencari-cari penumpang. Cukup menunggu orderan via android. Uniknya, para tukang ojek online tersebut banyak juga yang lulusan sarjana.

“Artinya dengan bawa gojek si sarjana itu sedang berbisnis sendiri untuk dirinya sendiri. Bukan untuk orang lain. Dia mencari uang untuk dirinya sendiri. Atau dia sedang mengkaryawankan dirinya sendiri (self employeed),”terangnya.

Merubah Pola Pikir = Merubah Nasib

Tom Harry mengutarakan bahwa zaman selalu berubah per 10 tahun sekali. Peluang pekerjaan semakin berkurang. Entah di pabrik atau dimanapun. Jika perubahan zaman itu tidak diiringi dengan revolusi pola pikir, maka manusia akan semakin jauh tertinggal dan terpuruk. Termasuk merubah mindset dalam berbisnis.

Dalam rangka mengubah pola pikir itu, Tom Harry menawarkan satu konsep usaha yang setingkat lebih tinggi dari sekedar self employeed. Yakni bagaimana manusia bisa menciptakan peluang usaha bagi manusia lain dan bagi banyak orang. Bukan menciptakan pekerjaan untuk diri sendiri.

“Kita mau berada dimana, mau di bawah atau di atas? Yang di bawah bisa juga jadi peluang usaha tapi sifatnya kita bekerja untuk uang (active income) Kalau yang di atas passive income, uang yang bekerja untuk kita,”katanya.

Lebih dalam Harry mengurai bahwa di era perubahan zaman itu terdapat cara yang paling bisa dilakukan agar tetap memiliki penghasilan tanpa harus meninggalkan banyak waktu adalah dengan melakukan bisnis yang bersistem. Artinya sistem yang bergerak. Sedangkan manusianya tinggal menanti hasil lalu menikmatinya.

Sebab, kata dia, cara ini sangat efektif untuk memulihkan keadaan financial keluarga di tengah semakin tingginya biaya hidup dan sulitnya pekerjaan. Sementara sistem itu bergerak, orang pun tidak terganggu untuk menghabiskan waktu dengan keluarga. Namun hal itu, jelas Harry, harus diawali oleh perubahan mindset terlebih dahulu.

“Jadi kita sedang menelurkan satu transisi untuk mengantisipasi perubahan zaman itu. Yakni dengan memberikan pendidikan dan peluang bagi mereka. Sekaligus mendistribusikan pengetahuan tentang bisnis itu apa berbeda dengan berdagang,”

“Harus ada pemahaman yang membuat mental manusia berubah. Agar punya waktu dengan keluarga harus melakukan bisnis yang bersistem. Biarkan sistem yang bekerja. Kita tinggal terima hasilnya. Jadi hanya merintis di awal saja setelah itu sistem yang bergerak. Jadi bisnis ini bisa memulihkan kembali kondisi financial keluarga,”terangnya. (ty)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here