Ternyata Begini Alasan TFH Lebih Tertarik jadi Senator

0

Tasikmalaya, Voiceofjabar.com – Mantan Bupati Tasikmalaya H. Tatang Farhanul Hakim semakin mantap untuk kembali menorehkan pengabdiannya di panggung politik tanah air pada tahun 2019. Tak seperti sebelumnya, kali ini ia lebih memilih bertarung dalam perebutan kursi Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI untuk wilayah Jawa Barat.

Dengan modal jumlah dukungan sebanyak 7.413 orang, namanya kini tercatat dalam deretan 66 calon anggota DPD yang berkasnya sudah diterima KPU.

Dalam satu kesempatan, ia menguraikan mengapa jalan itu yang ia pilih? Bukan mencalonkan kepala daerah atau pun anggota DPR.

Ia menyebut ketertarikannya tersebut berangkat dari kekalutan dan keterpurukan yang sedang dialami Partai Persatuan Pembangunan (PPP), partai tempat ia bernaung yang sampai detik ini masih terbelah.

Dualisme kepengurusan antara kubu Romachurmuzy dan Djan Farid dianggapnya sudah memudarkan ghiroh perjuangan PPP yang dahulu terpatri dalam dirinya. Akan halnya, ia pun tak greget lagi mencalonkan diri dari PPP.

“Tentu hal ini menjadi keniscayaan bagi siapapun kader partai PPP yang tidak menggunakan konsep musyawarah untuk mufakat. Artinya kan sudah keluar dari prinsip-prinsip perjuangan partai. Kalau pun saya diminta untuk mencalonkan dari PPP dengan kondisi seperti ini saya menyatakan tidak bersedia,”ujar TFH kepada voiceofjabar.com belum lama ini.

Dalam pencalonan DPD hari ini, TFH menegaskan memiliki visi dan misi yang sangat jelas. Berbekal pengalaman sebagai kepala daerah dua periode, ia berencana akan membangun kebersamaan melalui program-program yang sesuai dengan substansi lembaga DPD itu sendiri.

Yakni sebagai senator yang mengawal program anggota dewan dalam menyalurkan aspirasi mereka secara jujur dan adil. Sehingga keberpihakan dewan di dapil masing-masing benar-benar terwujud sesuai keharusannya.

“Mudah-mudahan kalau saya dipercaya oleh masyarakat sebagai anggota DPD saya paling tidak akan mengawal anggota dewan di Dapil Jabar itu sejauh mana keberpihakan mereka terhadap kebutuhan masyarakat Jabar dan kebutuhan pemerintah daerah. Sebagai pendamping pemerintah daerah untuk menyalurkan aspirasi ke pemerintah pusat,”terangnya.

Selama ini, lanjut TFH, kehadiran dewan hanya dari pemilu ke pemilu. Mereka muncul di tengah kerumunan rakyat saat ada kebutuhan dengan dalih dan rayuan siap menggulirkan dana aspirasi, dana program dan lain sebagainya. Nyatanya, tidak semua anggota dewan dewan punya kepedulian terhadap kepentingan masyarakat.

“Saya ingin buktikan kalau lembaga DPD itu harus berperan. Ya itu tadi berfungsi sebagai senator. Paling tidak menyalurkan aspirasi dengan Pemerintah Daerah melalui lembaga yamg punya kewenangan secara langsung di DPR kan gt,”katanya.

“Saya tidak akan nonton lah, saya akan bersuara. Mana dapil Jawa Barat. Apa keberpihakannya. Kalau tidak saya akan umumkan nanti kenapa anda pilih si A si B yang sama sekali tidak peduli? Apalagi punya kesan suara dapat beli. Gak ada itu. Jadi harus menghindari hal hal seperti itu,”tambahnya.

Sebelumnya, seiring nasib PPP yang semakin tak menentu, TFH pun sempat hijrah ke Partai Amanat Nasional (PAN). Dalam pencalonan anggota DPR RI Dapil Jabar XI pada 9 April 2014 lalu, ia berhasil mendulang suara yang cukup singnifikan naik 100% di Kabupaten Tasik khususnya dalam pencalonan anggota dewan. Namun ia kehilangan suara sebanyak 18 ribu suara di Kabupaten Garut. Alhasil, perjalanannya menuju parlemen tak berjalan mulus. (ty)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here