Seberapa Greget sih Pileg & Pilpres itu? Inilah Jawaban Dony Oekon

0

Tasikmalaya, Voiceofjabar.com – Hajat akbar pemilu 2019 mendatang menjadi tantangan tersendiri bagi para calon anggota legislatif dari masing-masing partai. Bagaimana tidak, pemilihan legislatif tahun depan bersamaan dengan pemilihan presiden. Tidak terpisah seperti pada tahun 2014 lalu. Tentu, momen ini menjadi hal yang amat berat untuk dihadapi para calon anggota legislatif.

Setidaknya, para caleg akan dihadapkan dengan dua kepentingan. Pertama, harus mensosialisasikan calon presiden & wakil presiden yang didukung partainya, kedua harus mempromosikan dirinya sendiri sebagai calon wakil rakyat.

Memperdalam hal ini, kami menjumpai salah seorang calon anggota legislatif incumbent dari PDI Perjuangan, H. Dony Maryadi Oekon. Dalam satu perbincangan bersama voiceofjabar.com di salah satu hotel di Tasikmalaya belum lama ini, caleg Dapil Kabupaten/Kota Tasikmalaya dan Kabupaten Garut itu menyampaikan sekelumit tentang fenomena politik tersebut. Seperti apa ya?

Berikut petikan wawancaranya:

Selama perhelatan politik 2019 di pileg dan pilpres 2019, apa yang muncul dalam benak bapak saat ini?

Kalau dibilang apa yang muncul dalam benak saya sebetulnya selama perjalanan saya lima tahun menjadi dewan banyak pelajaran yang saya dapati mengenai karakter masyarakat itu sendiri.

Jadi kita lebih mengetahui keinginan masyarakat itu sendiri. Maunya apa? kemudian targetnya seperti apa? Begitu juga akan kita sandingkan dengan target yang kita punya.

Mau kita seperti apa untuk kepentingan masyarakat. Jadi sebetulnya masyarakat itu yang paling penting jangan mereka dilupakan. Mereka tetap harus diingat dan kita harus mengayomi masyarakat itu sendiri.

Menurut pandangan bapak, pileg 2019 lebih berat atau lebih ringan dari 2014 lalu?

Ini pertanyaan paling unik ya. Tapi memang jujur 2019 buat saya ini berat. Karena memang situasi lapangan dan situasi politik. Karena kita ini bersandingan dengan pilpres. Kalau animonya masyarakat, itu orang lebih kepada ‘saha presidena’ (siapa presidenya?.

Jadi karena animonya ke situ, pilegnya gak terlalu greget gitu ya. Jadi kita bener-bener (mensosialisasikan) bahwa nanti ada pileg. Bukan hanya pilpres yang terjadi.
Karena kalau masyarakat berfikirnya kan yang gampang saja, ini siapa presidennya? Siapa yang memimpin kita?

Padahal kalau kita melihat memberi pelajaran kepada masyarakat, jangan hanya memiliih presidennya aja, (sebab) presiden gak akan jalan (sendirian) karena dewan sendiri itu juga yang berjuang untuk kepentingan masyarakat.

Ini yang saya katakan tadi kita dalam kondisi lumayan berat. Karena ya itu masyarakatnya, hanya terbayang untuk pilpres. Kalau dulu kan pileg duluan baru pilpres. Sekarang dibarengkan. Sosialisasinya rada berat,
yang kedua itu tadi, masyarakatnya fokusnya kemana.

Apa kiat-kiat atau cara-cara bapak untuk meyakinkan masyarakat bahwa nanti ada pileg?

Ya dengan memberi pelajaran kepada masyarakat bahwasannya ini prosesnya itu proses pileg dan proses pilpres yang dijadi satu. Ini yang kita harus memberi paljaran kepada masyarakat. Jadi kampanyenya itu lebih kepada, jujur ya, kita harus mengkampanyekan presiden yang kita dukung. Itu pasti.

Tapi kita juga tidak mau kalau sampai pileg ini dalam arti kata tanda kutip bukan pribadi saya sebagai caleg, kita lebih kepada kepentingan partainya. Kalau bicara kepentingan partai, tetap kita kedepankan dulu.

Memperjuangkan kepentingan partai, supaya jadi sinerginya begini: partai kita dorong ke depan, untuk memenangkan dua sisi. Satu mengenai presiden yang kita dukung, kedua mengenai calegnya gitu kan.

Di lapangan kelihatan caleg yang sudah punya pengalaman tentang kampanye ini, sama caleg yang baru. Jadi sangat jelas lah terlihat di lapangan.

Hal krusial apa yang sekarang mesti dibenahi?

Kalau dibilang krusial yang paling penting adalah kesolidan dari partai itu sendiri. Struktural partai yang kita pakai ya. Jangan menggunakan orang-orang yang memang dalam arti kata cabutan lah. Saya secara khusus berbicara PDI Perjuangan.

Kita tahu meraka militan. Semuanya militan.
Itulah suara kita, kita tinggal mengembangkan suara di luar militan ini untuk meyakinkan meraka bahwasannya kita harus solid gitu ya.

Nah yang saya lakukan sekarang ini untuk di lapangan adalah kesolidan dari partai itu sendiri. Itu yang paling utama buat saya.

Begitu hal krusial ini tidak terjadi, akhirnya caleg menjadi korban. Korban itu begini, pengklaiman kiri pengklaiman kanan yang mereka sebetulnya ada konflik di antara mereka. Ini yang kadang-kadang jadi masalah.

Yang akhirnya di antara kita caleg-caleg juga itu menjadi permasalahan seperti di dapil tidak membagi kavling itu menjadi konflik. Tumpang tindih. Itu ada. Kemarin di partai memang sampaikan lawan kita adalah di luar partai kita, itu betul, untuk membesarkan partai. Tapi kalau itu di dalam solid. Tapi kadang-kadang tanpa disadari temen-temen di dalem ada yang bergesekan.

Kalau konsep semuanya sama, kita bilang kita ingin memperkuat partai, silahkan berbagi kavling jangan tumpang tidih. Kurang lebih seperti itu. Ini yang benar-benar kita harus benahi, caleg-caleg itu sendiri.

Selama turun ke lapangan apa harapan masyarakat yang disampaikan ke bapak?

Iya seperti mereka minta tolong bantuan apa yang mereka butuhkan. Dan saya juga memberikan apa yang saya miliki.
Saya miliki itu bukan saya pribadi tapi program-program di pemerintah, program-program di DPR yang melalui saya
yang bisa saya bawa ke masyarakat.

Jadi, saya coba sinergikan dengan apa yang dimiliki pemerintah kepada masyarakat yang mereka butuhkan. Diarahkan maksud saya supaya nyambung gitu kan.

Saya pikir gak terlalu sulit lah. Kalau saya sebagai incumbent saat ini tidak perlu menjanjikan
karena program-program itu sendiri (sudah ada). Itu kelebihan incumbent.

Dalam masa berjalan misal saya punya program ya ini mau apa programnya saya bantu ayo. Bisa saya jalankan. Contoh Penerangan Jalan Umum, terus fasilitas sumur artesis. 

Nah itu programnya ada di saya. Itulah kelebihan incumbent. Kalau bukan incumbent (pendatang baru) rek janji kumaha (apa yang mau dijanjikan). Tapi kan mereka berjuang dengan cara mereka.

Yang salah itu mereka berjuang dengan modal mereka, nah ini yang terkadang apa, nanti pulang modalnya gimana?
itu yang kita takutin ya. 

Dony Maryadi Oekon merupakan anggota DPR RI. Ia berhasil menjadi anggota DPR RI 2014-2019 setelah memperoleh suara sebanyak 38.006 suara untuk daerah pemilihan Jawa Barat XI (Garut, Kota Tasik dan Kabupaten Tasikmalaya).

Ia duduk di Komisi VII yang membidangi Energi Sumber Daya Mineral, Riset & Teknologi, Lingkungan Hidup

Selama masa perjalanan itu, pria kelahiran Jakarta 01 Januari 1968 itu pernah ikut terlibat dalam beberapa pembahasan Rancangan Undang-Undang. Yakni:

RUU Perjanjian Persetujuan Paris (Paris Agreement)

12 Oktober 2016 – Pada Rapat Kerja Komisi 7 DPR-RI dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK),  mewakili Fraksi PDI Perjuangan, Dony menyetujui pengesahan RUU Persetujuan Paris dan ia akan melakukan pendalaman terhadap RUU ini.

RUU KPK 2015

Pada 6 Oktober 2015, Dony Oekon mengusulkan penggunaan hak inisiatif DPR RI atas perubahan pada Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dimasukkan dalam Prolegnas 2015.

RUU Pilkada (2014)

Menolak UU Pilkada dengan pasal inti bahwa Kepala Daerah dipilih oleh DPRD, karena bersikap mendukung pilkada langsung oleh rakyat

UU MD3 (2014)

Menolak revisi UU MD3

Paripurna Voting Paket Pimpinan DPR 2014-2019

Menolak ambil bagian sebagai anggota DPR yang menyetujui paket pimpinan DPR 2014-2019 (dengan Ketua DPR 2014-2019 terpilih Setya Novanto). Bagian dari pelaku walkout atas proses voting paket pimpinan DPR 2014-2019.
(ty/jang)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here