Seberapa Boleh sih Umat Islam Ikut Rayakan Tahun Baruan?

0

Voiceofjabar.com – Dalam beberapa situasi, umat Islam kerap kali dilanda dilema. Misal, dalam topik menyambut tahun baru masehi. Hingar bingarnya merambah manusia sejagat terutama pada malam detik-detik pergantian tahun.

Kembang api dari ragam ukuran dan merk, terompet dari bermacam bentuk dan bunyi-bunyian lainnya disiagakan di malam itu. Tua, muda, dan agama apapun termasuk sebagian umat Islam pun larut di moment itu.

Tentu beda halnya kala umat Islam berjumpa dengan tahun baru hijriah. Tak ada terompet dan kembang api. Semua kompak memadati majelis-majelis, menggelar tablig akbar dan sederet event islami lainnya.

Lalu, seberapa boleh sih umat Islam berbaur dengan gegap gempita malam tahun baru masehi itu? Dilematiskah anda atau biasa-biasa saja?

Jika merujuk pada kebiasaan beberapa agama,  bunyi-bunyian dijadikan nada panggilan untuk memuja Tuhan. Misal, Umat Nasrani menggunakan lonceng untuk memanggil jama’ahnya untuk ibadah. Kaum Yahudi menggunakan terompet untuk memanggil jama’ahnya, Kaum Majusi menggunakan api untuk menyeru jama’ahnya.

Jika ketiga budaya ini dilakukan khususnya oleh umat Islam di malam tahun baru, artinya secara tak langsung umat Islam telah mempraktikan alias meniru kebiasaan tiga agama di atas. Lonceng berdering, terompet bersahutan, kembang api pun ‘dor-dar’.

Bedanya tipis. Di malam tahun baru, bunyi-bunyian tersebut tidak diproyeksikan untuk menyeru manusia masuk ke tempat Ibadah manapun. Melainkan murni hiburan atau seru-seruan merayakan moment pergantian tahun.

Namun terlepas dari hal itu, empat belas abad silam, Rasulullah SAW mengabarkan: Dari Abu Sa‘id Al Khudri,ia berkata: Rasululah bersabda: “Sungguh kalian akan mengikuti jejak umat-umat sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal,sehasta demi sehasta, sehingga kalau mereka masuk ke dalam lubang biawak, niscaya kalianpun akan masuk (mengikuti) ke dalamnya.

Mereka (para sahabat) bertanya: Wahai Rasulullah, apakah mereka kaum Yahudi dan Nasrani? Lalu beliau berkata, Siapa lagi kalau bukan mereka”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Pendapat lain datang dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Ia menjelaskan bahwa “Tidak diragukan lagi bahwa umat Islam ada yang kelak akan mengikuti jejak Yahudi dan Nashrani dalam sebagian perkara”. (Majmu’ Al Fatawa, 27:286)

Riwayat lain dari Ibnu ‘Umar, Nabi saw bersabda: “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka”. (HR.Ahmad 2:50 dan Abu Daud no.4031)

Rasulullah saw bersabda: “Bukan termasuk golongan kami siapa saja yang menyerupai selain kami”. (HR.Tirmidzi no.2695)

Merujuk beberapa keterangan di atas, jelas benang merahnya adalah bahwa umat Islam jangan sekali-kali meniru kebiasaan agama lain.

Pendapat yang Mengbolehkan

Pendapat yang menghalalkan berangkat dari argumentasi bahwa perayaan malam tahun baru masehi tidak selalu terkait dengan ritual agama tertentu. Semua tergantung niatnya. Kalau diniatkan untuk beribadah atau ikut-ikutan orang kafir, maka hukumnya haram. Tetapi tidak diniatkan mengikuti ritual orang kafir, maka tidak ada larangannya.

Mereka mengambil perbandingan dengan liburnya umat Islam di hari natal. Kenyataannya setiap ada tanggal merah di kalender karena natal, tahun baru, kenaikan Isa, paskah dan sejenisnya, umat Islam pun ikut-ikutan libur kerja dan sekolah. Bahkan bank-bank syariah, sekolah Islam, pesantren, departemen Agama RI dan institusi-institusi keIslaman lainnya juga ikut libur. Apakah liburnya umat Islam karena hari-hari besar kristen itu termasuk ikut merayakan hari besar mereka?

Umumnya kita akan menjawab bahwa hal itu tergantung niatnya. Kalau kita niatkan untuk merayakan, maka hukumnya haram. Tapi kalau tidak diniatkan merayakan, maka hukumnya boleh-boleh saja.

Demikian juga dengan ikutan perayaan malam tahun baru, kalau diniatkan ibadah dan ikut-ikutan tradisi bangsa kafir, maka hukumnya haram. Tapi bila tanpa niat yang demikian, tidak mengapa hukumnya.

Adapun kebiasaan orang-orang merayakan malam tahun baru dengan minum khamar, zina dan serangkaian maksiat, tentu hukumnya haram. Namun bila yang dilakukan bukan maksiat, tentu keharamannya tidak ada. Yang haram adalah maksiatnya, bukan merayakan malam tahun barunya.

Misalnya, umat Islam memanfaatkan even malam tahun baru untuk melakukan hal-hal positif, seperti memberi makan fakir miskin, menyantuni panti asuhan, membersihkan lingkungan dan sebagainya.

Selanjutnya, terserah anda!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here