RK Ungguli Survei Poltracking, Golkar: Jabar Rentan di Garis Finish

0

Bandung, Voieofjabar.com – Poltracking merilis hasil survei terbarunya terkait pemilihan gubernur Jawa Barat. Survei elektabilitas calon itu melibatkam 1200 responden di 27 kabupaten – kota di Jawa Barat, pada 10 – 15 November lalu.

Hasilnya, Ridean Kamil menempati posisi teratas dengan raihan nilai elektabilitas 24, 2 persen. Disusul Deddy Mizwar dengan 7,1 persen, dan posisi tiga Bupati Purwakarta, 4,3 persen.

Pada survei dengan simulasi 20 nama semi terbuka, nama Ridwan Kamil alias Kang Emil masih yang tertinggi yakni mencapai 41,8 persen.

Posisi nomor dua masih diisi oleh Deddy Mizwar dengan 18,0 persen dan posisi ketiga diisi oleh ulama kondang, Abdullah Gymnastiar dengan 8,6 persen.

Dedi Mulyadi berada di nomor empat dengan 8,3 persen.

Pada simulasi tiga nama, posisi ketiga kandidat-kandidat tersebut tidak berubah. Kang Emil masih berada di posisi teratas dengan 46,8 persen, Deddy Mizwar dengan 27,6 persen, dan posisi paling buncit adalah Dedi Mulyadi. Dalam survei tersebut 15,3 persen responden tidak menjawab.

Jabar masih Rentan

Wakil Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar, TB Ace Hasan Syadzily, di acara pemaparan hasil survei Poltracking, di Hotel Sari Pan Pacific, Jakarta Pusat, Selasa (5/12/2017), mengatakan hasil survei tersebut tidak bisa dijadikan acuan untuk menang Pilkada Jawa Barat.

Walaupun hasil survei terhadap kandidat yang dijagokan Partai Golkar lumayan tinggi, namun keadaan di Jawa Barat sangat rentan terjadi perubahan drastis di saat-saat terakhir. Ia menyebut hal itu dengan mengacu pada Pilkada Jawa Barat 2008 lalu.

Saat itu sejumlah tokoh besar ikut berpartisipasi di Pilkada Jawa Barat, antara lain adalah Agum Gumelar yang merupakan mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Sosial dan Keamanan (Menkopolsoskam) yang sempat menjadi Menteri Pertahanan (Menhan), serta Danny Setiawan yang merupakan Gubernur Jawa Barat. Namun pada saat terakhir pasangan Ahmad Heryawan dan Dede Yusuf bisa memenangkan pertarungan.

“Nama Aher waktu itu tidak diperhitungkan, artinya bisa cepat diperhitungkan. Saya ingat mereka larinya jauh-jauh hari, tujuh bulan,” katanya. (trb)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here