Prabowo, Poros SBY & Kejatuhan Jokowi

0

Voiceofjabar.com – Setiap calon Presiden pasti ingin menang. Jokowi pun tentu demikian. Untuk bisa menang, maka harus dicari jalan untuk membatasi pergerakan lawan. Dalam konteks inilah saya kira Jokowi merasa perlu mengutus Wiranto untuk bertemu Yudhoyono dan menugasi Luhut menemui Prabowo.

Mengapa harus Prabowo dan Yudhoyono? sebab dua tokoh inilah yang dipandang paling potensial menjadi lawan bagi Jokowi di Pilpres nanti. Jika Prabowo maju kembali lalu Yudhoyono membangun blok politik tersendiri, maka mereka bisa menjadi sandungan yang merepotkan bagi Jokowi.

Jokowi tentu belum lupa tentang cerita kekalahannya dari sang Ketua Umum Partai Gerindra di sejumlah wilayah. Prabowo pernah unggul di 10 provinsi atas dirinya. Bahkan selisih suara mereka di suatu provinsi sempat membuat Jokowi merasa sangat tidak enak hati. Prabowo membabat hampir 77% suara, sementara Jokowi hanya mendapat sisanya sekira 23% suara.

Jadi jika Prabowo tetap maju atau menyiapkan tokoh lain yang setara untuk menjadi lawan dirinya, lalu Yudhoyono ikut membantu kubu Gerindra atau justru membangun blok politik ketiga, itu artinya ancaman bagi Jokowi semakin nyata.

Maka dalam upaya membatasi pergerakan Prabowo dan Yudhoyono itulah saya kira kita dapat mengintip alasan Jokowi menerjunkan dua Jenderalnya menemui dua Jenderal lainnya.

Politik utusan ini sudah terbaca arahnya, yaitu menjadikan Pilpres 2019 sebagai panggung bagi Jokowi untuk melenggang sendirian. Sebab jika Luhut berhasil menggandeng Prabowo sebagai cawapres Jokowi lalu Wiranto mampu menggalang dukungan dari Yudhoyono dan PKB tetap berada dibarisan Jokowi, maka tercapailah target Pilpres satu peserta.

Tetapi apakah misi Jokowi lewat Luhut dan Wiranto akan berhasil? Saya ragu. Sebab jika Prabowo bersedia mendampingi Jokowi, itu artinya Gerindra sedang menggali kuburnya sendiri. Tetapi seandainya pun Prabowo bersedia bersanding dengan Jokowi, maka ada Yudhoyono yang akan sigap memanfaatkan kondisi itu dengan membangun blok penantang Jokowi-Prabowo.

Blok politik Demokrat itu sangat mungkin mendapat dukungan PKB, PAN, dan bahkan PKS. Jika koalisi baru ini benar-benar terbentuk untuk berhadapan dengan koalisi Jokowi plus Gerindra, maka tidak mustahil 2019 Indonesia akan punya Presiden dan Wakil Presiden baru.

Mengapa koalisi penantang Jokowi-Prabowo itu berpeluang menang? sebab selain didukung oleh para konstituen partai masing-masing, koalisi ini sangat mungkin akan menjadi tempat berkumpul berbagai elemen masyarakat yang saat ini justru dalam posisi saling berseberangan.

Kelompok anti-Jokowi, para pembenci Prabowo, ‘kelompok politik Islam baru’ yang terkonsolidasi pascaaksi 212, bahkan loyalis Prabowo yang merasa dikhianati boleh jadi akan ikut bergabung dalam blok politik yang dipimpin oleh Yudhoyono ini.

Oleh: Said Salahudin/Pengamat Politik 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here