Pilkada Butuh Regenerasi, Pemimpin Muda Lebih Fight

0

Jakarta, Voiceofjabar.com – Pemilihan kepala daerah serentak di berbagai daerah di tanah air sebentar lagi akan dihelat. Tepatnya 27 Juni 2018. Seluruh kandidat yang maju melalui bendera koalisi partai politik maupun dari jalur perseorangan sama-sama beradu konsep dan menawarkan segudang gagasan untuk membangun wilayahnya ke arah yang lebih baik.

Bahkan termasuk di dalamnya menguar visi misi pembersihan praktik-praktik korup di lingkar birokrasi yang notabene sudah mengakar dan menjadi-jadi. Istilah lainnya, terstruktur, sistematis dan masif. Lantas, seberapa besar arti pemilihan kepala daerah berkaitan dengan hal itu?

Benarkah pilkada adalah momentum perubahan ke arah lebih baik atau justru sebaliknya? Ataukah hanya sebagai acara hajat euforia warga yang mengantarkan para idola politik mereka tanpa tahu kemana kepemimpinan akan dibawa?

Pengamat politik LIPI, Siti Zuhro menerangkan bahwa pemilihan kepala daerah sejatinya menjadi sebuah kontestasi para kandidat yang lebih mengedepankan visi kepentingan jangka panjang. Sehingga pilkada dapat melahirkan pemerintahan yang demokratis. Artinya pemerintahan yang transparan dan dapat dipertanggungjawabkan.

“Kebijakan pemerintah daerah yang pro rakyat nantinya benar-benar harus dieksekusi oleh orang-orang yang tepat. Kalau tidak mau tranparan, tidak mau tanggungjawab maka di situlah biangnya korupsi,”katanya dalam diskusi politik bertema: “Pilkada Lahirkan Pemimpin Bersih dan Anti Korupsi” di Jakarta, Jumat malam, (26/01).

Menurutnya, pilkada merupakan satu momentum yang harus dimanfaatkan oleh rakyat untuk memilih pemimpin yang mampu menciptakan kebaruan-kebaruan dalam sistem pemerintahan yang berkeadaban.

Bukan pemerintahan yang stagnan dan jalan di tempat yang justru diperunyam oleh praktik-praktik manipulatif dan diperparah oleh intrik-intrik polarisasi subjektif yang menguntungkan golongan tertentu.

“Ini yang harus diantisipasi oleh rakyat. Artinya pemilihan kepala daerah itu harus dipakai sebagai momentum pembaharuan. Tidak lagi bicara senior atau junior tapi ambil satu keputusan untuk memilih pemimpin yang siap transparan, yang berani kontrak politik dengan masyarakat,”tandasnya.

Maka dari itu, kata dia, rakyat sangat merindukan pemimpin yang tidak hanya lulus secara kompetensi melainkan juga lulus dalam hal kejujurannya.

Pemimpin Muda Lebih Fight

Munculnya kandidat kepala daerah dari kalangan muda juga menjadi sesuatu yang menarik. Seperti yang terjadi di Kabupaten Bogor dalam pilkada serentak tahun ini. Siti Zuhro menilai tampilnya kaum muda dalam kontestasi politik merupakan satu kesempatan baik untuk melahirkan perubahan baru.

“Menurut saya ini kebangkitan orang muda dan juga saatnya republik ini melakukan estafeta dalam regenerasi tadi untuk menghadirkan energi baru. Biasanya anak muda berfikirnya selalu out of the box dan pola pikirnya yang luar biasa,”katanya.

Menurutnya pula kepemimpinan tidak melulu harus diserahkan kepada para elit senior yang telah lama bercokol di panggung politik. Melainkan harus juga dberikan kepada kalangan muda yang meneruskan estafet pemerintahan sebagai wujud regenerasi tadi.

“Kalau regenerasi tidak diberikan oleh senior kepada yang muda, ya yang junior-junior ini yang harus merebut kekuasaan itu. Jadi fight,”katanya. (ty)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here