Percaya atau Tidak, Kain Sarung Bisa jadi Pemersatu Bangsa dan Melancarkan Reproduksi

0

Jakarta , Voiveofjabar.com – Selain menjadi media pemersatu bangsa, Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi menyatakan bahwa memakai sarung juga dapat memperlancar reproduksi.  Demikian ia utarakan saat menjadi pembicara dalam Seminar Nasional yang digelar PBNU, bertema “Sarung Nusantara” di gedung PBNU, Kamis (6/4/2017).

“Penelitian menyebutkan jika menggunakan celana ketat itu bisa merusak reproduksi, yang pakai sarung itu tinggi reproduksinya, makanya kiai banyak anaknya,” ujar Dedi disambut gelak tawa peserta seminar.

Dedi memaparkan terminologi filosofi kain sarung yang notabene menjadi khas warga nahdliyin. Menurutnya, memakai sarung warga NU diingatkan salah satu cerita legenda sunda, Lutung Kasarung.

“Dahulu saat jaman kerajaan, jaman Raden Wijaya itu katanya Majapahit bertengkar sama Raja Galuh, lalu dibuatlah cerita Lutung Kasarung itu.  Kasarung itu artinya tersesat,” jelas Dedi.

Dalam bahasa sunda, jelas Dedi, ada dua makna sarung, yakni persenyawaan dari berbagai unsur kemanunggalan, yakni unsur tanah, air, udara, dan rung.

“Makan yang terkandung yakni ada rung yang terkurung, masuk dalam kaidah kesempernaan. Atau manusia suci. Kaidahnya yakni ada dalam bentuk fashion, dimana orang yang memakai sarung itu menyaring dengan bahasa hatinya,” jelasnya.

Maka, jika dalam pesantren NU memakai sarung itu artinya mencerminkan pemimpin yang bijak.

“Kiai itu kalau mau kasih ilmu ke santri, disaring dulu ilmunya, lalu disampaikan kembali ke santrinya dengan baik. Jadi yang buruknya tidak disampaikan kepada santri,” jelasnya.

Makna lainnya, kata dedi, yaitu sasarung. Artinya dulu sebelum ada cover bed, orang sunda tidur dengan sarung berdua bersama suami istrinya. Dan itu menjadi budaya.

“Nah itu sasarung banyak dilakukan di daerah sunda, itu menunjukan arti menyatukan. Sehingga sarung itu bisa mempersatukan bangsa kita saat ini,” jelasnya.

Dari persfektif ideologi, Dedi menyebut bahwa sarung  melahirkan dua karakter yakni maskulin dan feminim. Kalau maskulin itu ketika memakai sarung, dalam tubuh itu ada kolbu yang menyatu dengan hati kita. Sehingga menghargai ciptaan Allah SWT, dan menyatu dengan alam,” terangnya.

“Sedangkan segi feminim yakni perempuan itu kalau di sunda suka pakai

samping (sarung) dipakai menyamping, disampingkan. Itu sesuai dengan kelembutan dan ini ciri khas wanita Indonesia,”jelas Dedi lagi.

Bahkan ke depan, sambung Dedi,  sarung  bisa masuk dalam kaidah fiqih untuk penyesuaian cuaca di daerah yang berbeda cuacanya.

“Saya kira bisa saja, misal cuaca 29 derajat, jenis sarungnya seperti apa dan bagaimana. Turunannya banyak, yakni misalkan membuat kreasi

sarung yang bernilai islami dan berbudaya daerah setempat, ini bisa memunculkan banyak sektor. Mungkin dari satu hal itu saja (sarung) bisa dilakukan untuk mengenalkan budaya bangsa dan karakter bangsa ini kepada negara di dunia,” pungkasnya. (tys)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here