PERAN PENTING PEMUDA SEBAGAI PEMILIH PEMULA

0
Ayi Sasmita/Ketua DPD KNPI Kabupaten Garut

Oleh: Ayi Sasmita , S.Pd.I

(ketua DPD KNPI Kabupaten Garut)

Menurut KBBI pemuda diartikan orang muda laki-laki; remaja; teruna dengan tambahan kata sebagai posisi penerus generasi bangsa dan pemimpin masa depan, sementara m Menurut UUD no 40 thn.2009 pasal 1 tentang kepemudaan dijelaskan bhwa:”Pemuda adalah warga negara Indonesia yang memasuki periode penting pertumbuhan dan perkembangan yang berusia 16-30 tahun”.

Sementara Dalam literatur sejarah berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia kaum pemuda memiliki peranan penting dalam membangun bangsa (nation), spiri tyang dimiliki pemuda akan pentingnya nilai-nilai persatuan dan kesatuan untuk menjadikan nusantara sebuah negara kesatuan yang merdeka telah muncul jauh sebelum pembacaan teks proklamasi tanggal 17 Agustus 1945 yang dilakukan oleh Ir. Soekarno dan Moh. Hatta.

Penjajahan panjang yang telah dilakukan oleh kolonial asing telah menjadi latar belakang bagi pemuda bangsa kita harus berdiri sendiri “merdeka”. 20 Mei 1908 berdirinya organisasi Budi Utomo diyakini sebagai cikal-bakal organisasi pergerakan nasional pemuda yang cukup berpengaruh di mata Pemerintahan Hindia-Belanda ketika itu.

Organisasi yang dimotori oleh sejumlah mahasiswa STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen) seperti Dr.Soetomo, Cipto Mangunkusumo, dan R.T. Ario Tirtokusumo tersebut didirikan bertujuan untuk membangun kesadaran serta pengetahuan masyarakat pribumi tentang pentingnya memajukan pendidikan, sosial, ekonomi dan politik untuk kemajuan bangsa. Sehingga moment berdirinya organisasi Budi Utomo tersebut diperingati setiap tahun sebagai Hari Kebangkitan Nasional (HARKITNAS).

Tidak dapat dipungkiri bahwa pemuda memiliki andil dalam proses perjalanan panjang bangsa kita. Semangat persatuan, semangat untuk bebas dari keterjajahan asing, serta semangat kebangsaan merupakan embrio yang dimiliki pemuda untuk membangun bangsa dari ketepurukan.

Namun kondisi bangsa saat ini tampaknya kembali membutuhkan perhatian pemuda, mengingat saat ini telah terjadi krisis nilai-nilai kebangsaan,maraknya kasus korupsi berjamaah yang melibatkan pejabat negara mulai dari legislatif, yudikatif, hingga eksekutif tampaknya telah keluar jauh dari esensi tujuan berdirinya suatu bangsa.

Pemuda harus kembali mengambil peran dalam kembali membawa arah bangsa ini ke rel nya, budaya korupsi yang saat ini telah mengakar harus segera dihentikan. Bangsa ini membutuhkan pemuda yang sadar akan bahaya laten korupsi yang telah mengikis nilai-nilai kebangsaan tersebut.

Oleh karena itu pemuda harus menjadi pelopor pergerakan melawan budaya korupsi saat ini, karena pemuda lah yang memiliki masa depan maka akan menjadi sangat penting kalau pemuda memahami dan memiliki kesadaran bahwa budaya korupsi akan membawa bangsa kita kedalam keterpurukan.

Oleh karenanya peranan penting pemuda dalam mengawal demokrasi khususnya kepemiluan memiliki andil yang sangat penting, mereka masih punya semangat yang tinggi, enerjik dan jika diarahkan dengan benar akan menjadi kekeuatan baru untuk merubah kekeuatan kekuatan lama dan sebagai pembaharu bagi arah baru Indonesia yang bermartabat, dengan terjunnya para pemuda yang mempunyai kapasitas dan kapabilitas diharapkan bisa sedikit memberi perubahan, karena pemuda akan leih dinilai bebas dari dosa sejarah dan keterikatan secara Status Quo.

Pemilu merupakan ajang pesta demokrasi rakyat, digelar setiap lima tahun sekali. Tentu saja banyak pemuda yang untuk pertama-kalinya memiliki hak pilih. Lantas, ke Parpol manakah sebagian besar pemuda menyalurkan aspirasinya. Nah, hal inilah yang perlu digarap secara cermat oleh setiap Parpol. Jumlah suara pemuda itu puluhan juta, tentu saja diperlukan perlakuan khusus untuk mendekati kalangan pemuda.

Pemuda memang identik dengan gairah, semangat, demokrasi dan keterbukaan. Pemuda tak menyukai segala sesuatu yang loyo dan muluk-muluk, pemuda memang amat menyukai realita. Dengan demikian, salah satu “jurus” untuk meraih dukungan pemuda dalam setiap Pemilu ialah dengan menawarkan keterbukaan, program yang tidak muluk-muluk serta realistis.

Dalam setiap acara kampanye, gairah pemuda seperti terbakar dan makin bergelora. Dalam setiap kampanye ketergantungan Parpol terhadap kalangan pemuda begitu tinggi, karena sebagian besar dari massa yang hadir memang para pemuda. Sudah sewajarkan keikutsertaan pemuda tidak disia-siakan, apalagi jika ditanamkan perasaan sentimen atau prasangka yang buruk terhadap Parpol lain, hingga dikhawatirkan menimbulkan perpecahan antar pemuda, Kampanye harus dijadikan ajang untuk mendidik dan memberikan pengalaman bagi para pemuda, sama sekali bukan untuk memecah belah kekompakan pemuda.

Selayaknya di antara Parpol terjadi kerjasama dan kekompakan, terutama untuk menggelar pesta demokrasi yang bersih, termasuk menumbuhkembangkan kesadaran berbangsa dan bernegara bagi kalangan pemuda. Jangan sampai peran pemuda dalam pemilu hanya ikut-ikutan saja tetapi harus menjadi inisiator dan menjadi penentu bagi kemenangan. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here