Pengamat: Strategi “Last Minutes” Wujud Kemunduran Kaderisasi Parpol

0

Bandung, Voiceofjabar.com – Sejumlah Partai menunda mendeklarasikan calonnya di Pemilihan Gubernur di daerah Jawa. Strategi ini dikenal dengan nama strategi last minute. Sebagian politisi menyebut strategi tersebut sangat tidak efektif dilakukan di Pulau Jawa. Bahkan jika dipaksakan, bisa berakibat kekalahan dalam sebuah kontestasi politik.

Pengamat Politik Indonesia Public Institute (IPI), Karyono Wibowo menandaskan bahwa strategi politik last minute dalam konteks penentuan calon kepala daerah lebih disebabkan oleh sejumlah faktor.

Pertama adanya transaksi tarik menarik rekomendasi. Kedua; pertimbangan strategi saling mengunci lawan. Ketiga, karena krisis figur yang layak diusung yang menyebabkan kegamangan dalam memutuskan calon kepala daerah seperti yang dialami PDI Perjuangan di pilkada Jawa Barat.

“Jadi, masalah menentukan pasangan calon kepala daerah last minutes lebih menunjukkan kentalnya politik transaksional dan kegagalan partai dalam melahirkan kader yang berkualitas dan layak diusung menjadi calon pemimpin daerah,”tandas Karyono kepada Voiceofjabar.com.

Ia tak sepakat jika strategi politik last minutes disebut sebagai sebuah kemunduran demokrasi melainkan kemunduran kaderisasi. Sehingga, kata dia, andai hal tersebut menjadi kebiasaan dalam setiap momentum politik dapat berimbas pada labilnya tatanan demokrasi nasional.

“Fenomena seperti itu lebih tepat disebut sebagai kemunduran kaderisasi. Akan tetapi, kultur politik semacam itu bisa merusak tatanan demokrasi, jadi jangan dibiasakan!,”ujarnya lagi.

Di tanah Jawa Gak Cocok

Wakil Sekjen DPP PKS Mardani Ali Sera mengatakan strategi itu tak cocok diterapkan di politik tanah Jawa.

“Pertama, mungkin mereka punya strategi last minute, bisa jadi itu baik. Tapi Jawa ini sangat besar, semakin lama diumumkan semakin kecil peluang menangnya,” kata Ali.

Ia mencontohkan Pilkada 2013 saat Rieke Diah Pitaloka memiliki elektabilitas tinggi di Jawa Barat. Namun karena PDI Perjuangan mendeklarasikan Rieke di saat akhir, maka kondisi berbalik.

Kader PKS yakni Ahmad Heriyawan memenangi kursi Gubernur di Jawa Barat. Seharusnya partai-partai menjadikan hal itu pengalaman dan pelajaran penting.

Banyak benefit atau keuntungan yang dapat diambil dari deklarasi di waktu awal. Misalnya terkait sosialisasi pada masyarakat dan daya dongkrak elektabilitas calon

Aher mendapat keuntungan dari hal itu. “Siapa yang enggak ambil momen di waktu awal, peluang dapat benefitnya itu kecil,” kata Mardani.

Di Pilkada yang sekarang, ia berdalih tetap konsisten mendeklrasikan calon di saat-saat awal. Meski ujungnya mencabut dukungan dari Deddy Mizwar. “Kami sih enggak ragu ya. Dari awal Demiz-Syaikhu, tapi karena Gerindra Sudrajat, ya kita beralih ke sana,” tandas dia.

Sudah jadi Kebiasaan

Pengamat Politik dari LIPI Syamsudin Haris menyebut strategi last minute memang kerap dilakukan parpol, khususnya PDI Perjuangan. Contohnya seperti di Jawa Barat, saat Golkar mencabut dukungan dari Wali Kota Bandung Ridwan Kamil.

Haris menyebut hal ini merubah peta politik dan koalisi. “Sehingga sebagian partai, khususnya PDI Perjuangan, menunda putusan. Namun memang partai itu di tahun-tahun sebelumnya juga biasanya mendeklarasikan belakangan,” kata Haris.

Hal serupa terjadi juga di Jawa Tengah, Haris melihat PDI Perjuangan masih menunda deklarasi petahana Ganjar Pranowo. Meski elektabilitas kuat dan sebagai inkumben, PDI Perjuangan tak ingin buru-buru mengusung Ganjar.

“Karena diisukan dia (Ganjar) bisa tersangkut kasus KTP-el, sehingga PDI Perjuangan juga menunda deklarasi,” tandas Haris. (ty)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here