Pengamat Gerakan Islam: Bom Kampung Melayu Jangan Disimpulkan Subjektif

2

Voiceofjabar.com  – Ledakan bom di Terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur turut memancing ragam tanggapan dan analisa. Salah satunya dari pengamat gerakan Islam Ustadz Abu Tholut al Jawi.

Menurutnya, ada dua pendekatan untuk menganalisa kejadian tersebut. Yaitu pendekatan induktif dan deduktif.

Pendekatan induktif,  merupakan pendekatan yang merunut suatu kejadian diawali dari yang  sering terjadi, mempelajari kejadian-kejadian yang sudah berlalu untuk dicari benang merahnya lalu diambil suatu kesimpulan.

“Dan tidak hanya pendekatan ini saja, ada satu lagi, yang mana keduanya harus dilakukan,” katanya. Pendekatan kedua, yaitu pendekatan deduktif diawali dengan menganalisa tempat kejadian, mengumpulkan  berbagai bukti di lapangan juga berupa jejak yang ada dari tempat asal kejadian sampai menghasilkan suatu kesimpulan.

Karenanya, seorang pengamat harus terjun langsung ke Tempat Kejadian Perkara (TKP), kata Ustadz Abu Tholut. Dengan melihat tempat kejadian, diyakini pengamat dapat mengumpulkan data-data secara valid sehingga analisanya bisa objektif dan tidak gegabah.

“Jangan baru dapat info sedikit, hanya berbentuk laporan sepihak lalu menyimpulkan, ini justru malah bernilai subyektif dan seorang pengamat seperti ini cenderung tidak independen,” tegasnya.

Tanggapi Nasir Abas

Menanggapi Nasir Abas, yang belakangan disebut pakar terorisme dan mengatakan pembuat bom Melayu mendapatkan keterampilan dari daerah konflik, Ustadz Abu Tholut mengatakan bahwa pernyataan Nasir Abas baru prediksi yang bersifat prematur

“Banyak mengandung asumsi-asumsi yang sudah mengarahkan pada kelompok tertentu bahkan negeri tertentu, yang jadi pertanyaannya mana data pendukung untuk menyimpulkan hal tersebut?” tanya Ustadz Abu Tholut.

Kata Ustadz Abu Tholut, Kalau alasannya bahan baku dan orang yang punya keterampilan dari luar negeri saja sebagai data pendukung, di Indonesia sudah banyak yang sudah pulang dari daerah konflik.

“Sudah banyak dari dulu yang sudah pulang tapi apakah terjadi serangan seperti yang terjadi akhir-akhir ini,” kata dia.

“Masalah skill dan bahan baku berlimpah, tapi mana pelaku yang atau bomb maker yang punya historis memiliki keterampilan dari luar?” tanya Ustadz sambil menyebutkan tempat tempat kejadian.

Ustadz Abu Tholut mencontohkan pelaku serangan di pos Polisi Tangerang dulu tidak menggunakan bom. Kasus lain tentang bom panci yang tertangkap di Bekasi dan diduga ingin mengebom istana, mereka tidak pernah keluar negeri. “Bom Sarinah juga demikan,” katanya.

Karenanya, menurut Ustadz Abu Tholut, jika bom Melayu dikaitkan dengan data pendukung yang baru sedikit lalu disimpulkan seperti pernyataan Nasir Abas, malah terkesan dipaksakan.

“Belum bisa disimpulkan dari kelompok mana apa motifnya, tujuannya apa? Untuk hari ini, kalau asumsi dan dugaan banyak sekali,  tapi pakai data pendukung saja nggak,” tutupnya. (red/)

sumber: Jurnalisislam.com

 

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here