Minim Anggaran, Technopark Tasikmalaya Dijanjikan Rampung Tahun Depan

0

Tasikmalaya, Voiceofjabar.com – Pengembangan techno park di Kabupaten Tasikmalaya masih terus berjalan. Namun anggarannya terbatas. Pemkab Tasik belum sepenuhnya bisa meng-cover kebutuhan seluruhnya.

Solusinya, selain menggandeng Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) untuk sektor akademisnya, Pemkab Tasik juga menggandeng pihak swasta lainnya dari kalangan agribisnis dan komunitas-komunitas yang concern di bidang pertanian.

Istilah lainnya adalah konsep ABCG (Academician, Business, Community, Government).

“Govermentnya kita. Nah technopark ini kita akan jadikan sebagai demplot dan inkubator agribisnis. Nanti swasta biar bikin demplot tanaman komoditas Explore nanti itu, cabe shypoon dan baby buncis,”ungkap Asisten Daerah II Kabupaten Tasikmalaya, Budi Utarma belum lama ini.

Lokasi technopark tersebut, jelasnya, ditindaklanjuti oleh Dinas Pertanian dengan menyiapkan kelompok tani untuk menanam tanaman komoditas ekspor sesuai dengan persyaratan dari pihak swasta.

Dengan kata lain, petani bisa berlatih di technopark dengan melibatkan swasta, LIPI, pemerintah dan komunitas yang sudah bersedia serta didampingi oleh tenaga profesional alumnus himpunan IPB ( Institut Pertanian Bogor).

Pemkab Tasik menunjuk PT EBA ( Elang Biru Agrotama ) sebagai rekanan eksportir. Perusahaan ini sudah mempunyai lahan Cabe di wilayah sekitar Sukamantri, Pangandaran, Ciamis, Banjar dan Pangalengan.

“Nah kita tarik supaya bisa mengembangkan di wilayah Kabupaten Tasikmalaya,”tandasnya.

“Swasta itu menjamin membeli dengan kontrak harga misalnya cabe Shypoon Rp20.000 per kg jadi harga itu tetap stabil dan tidak akan merosot,”tambahnya.

Diketahui, Luas lahan wilayah technopark sendiri itu seluas 3,5 hektar dan ini belum selesai, sebagian dipakai untuk persemaian dan sebagian lagi a
untuk tanaman sayuran organik dan ada bangunan untuk pengolahan hasil susu yoghurt.

“Di situ juga ada pengolahan pupuk cair dan pengolahan kotoran hewan dan juga ada tempat jamur dan kita sudah produksi,”katanya.

Petani yang dilibatkan di sana semula berjumlah 20 orang dan sekarang tinggal 8 orang. Karena keterbatasan anggaran dari Pemkab konsep dasar inkubator dari agribisnis itu dikonsep sebagai agrowisata.

“Nah anak-anak SD bisa melihat technopark dan bisa melihat pertanian itu tidak kumuh, jadi ada edukasinya sebagai eduwisata edukasi dan wisata, ini yang belum selesai. Tahun 2018 ini kan baru exit, mungkin di tahun 2019 pembangunan itu bisa selesai semuanya,”tutupnya. (jang)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here