Menanti Jurus Pamungkas Dedi Mulyadi Usai Didepak Golkar

0

Bandung, Voiceofjabar.com – Dedi Mulyadi terpaksa harus menelan pil pahit dari partainya sendiri. Bupati Purwakarta ini didepak dari bursa Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat. Dia tersingkir setelah para petinggi di DPP Partai Golkar malah menjatuhkan pilihan kepada Ridwan Kamil dan Daniel Muttaqien Syaifuddin untuk maju di di Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Barat 2018 mendatang.

Keputusan DPP Golkar tersebut jelas mengundang tanda tanya banyak pihak, sebab pada 1 Agustus 2017 lalu, dalam rapat tim Pilkada DPP Golkar mantap merekomendasikan Dedi sebagai Bakal Calon Gubernur atau Wakil Gubernur Jawa Barat.

Apalagi Sekretaris Jendral DPP Partai Golkar Idrus Marham pernah mengungkapkan, Dedi merupakan satu-satunya kader yang paling layak diusung partai. Menurutnya, Dedi mampu membawa partai berlambang beringin itu meraih suara tertinggi kedua di Pemilu 2014.

“Kami pastikan hanya Dedi Mulyadi. Elektabilitas partai ini tinggi di Jawa Barat, itu prestasi,” ungkap Idrus di Kantor DPP Partai Golkar Jalan Anggrek Nelly Murni, Slipi, Jakarta Barat.

Tak hanya itu, Idrus juga mengatakan keputusan partai merekomendasikan nama Dedi lantaran elektabilitasnya yang terus bergerak positif. “Akselerasi dia sebagai kader itu sangat cepat, pengaruhnya terhadap elektabilitas pribadinya juga besar, bersaing, dan kecenderungannya terus naik,” jelas Idrus.

Bahkan Ketua Harian DPP Partai Golkar Nurdin Halid juga memastikan rekomendasi untuk Dedi sudah dianggap final. Dia juga menjanjikan untuk komunikasi politik ke sejumlah partai agar Dedi bisa maju di Pilgub. Hal tersebut mesti dilakukan lantaran kursi Golkar di DPRD Jawa Barat tak mencukupi untuk mengusung calon sendiri, sehingga mereka mesti menjalin koalisi.

Untuk memajukan calon di Pilgub Jabar 2018 mendatang, partai yang diketuai Setya Novanto ini mesti memiliki setidaknya 20 kursi di DPRD Provinsi Jawa Barat. Sedangkan Golkar kini hanya menduduki 17 kursi.

Pada hari Jumat 22 September 2017 silam, beredar salinan surat dengan kop DPP Partai Golkar beredar di grup WhatsApp dan Facebook. Isi surat tersebut berbunyi seperti ini: “Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar menetapkan dan mengesahkan: Sdr. H. MOCHAMAD RIDWAN KAMIL, S.T., M.U.D sebagai calon Kepala Daerah berpasangan dengan Sdr. H. Daniel Mutaqien Syaifuddin, S.T., sebagai calon Wakil Kepala Daerah Provinsi Jawa Barat yang diusung Partai GOLKAR dalam Pilkada serentak Putaran ke-3 tahun 2018.”

Beredarnya surat tersebut menjadi kontroversi karena beberapa hal, diantaranya, kolom nomor di surat tersebut tidak diisi, tidak ada tanggal, dan stempel. Selain itu, surat ditandatangani langsung oleh Ketua Umum DPP Partai Golkar Setya Novanto yang saat itu dikabarkan sedang dirawat intensif di rumah sakit lantaran mengalami sakit serius. Yang lebih mengherankan lagi, dalam surat itu Idrus Marham yang sebelumnya mendukung Dedi, justru membubuhkan tanda tangan persetujuannya.

Kontroversi surat DPP Partai Golkar yang sebelumnya dianggap bodong itu akhirnya terjawab pada Jumat (29/10) lalu. Idrus Marham, di Kantor DPP Golkar menyatakan partainya resmi mengusung nama Ridwan Kamil dan Daniel sebagai Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat. Pernyataan itu persis seperti yang tertuang dalam surat yang sebelumnya sempat dibantahnya.

Kenapa DPP Golkar mendepak Dedi dan menjatuhkan pilihan kepada Ridwan Kamil dengan Daniel Muttaqien Syaifuddin?

“Dia (Daniel, red) anggota DPR RI, Ketua DPR Golkar Indramayu, anaknya Yance,” kata Dedi Mulyadi.

Yance adalah sapaan lain dari Irianto MS Syafiuddin. Dia adalah mantan Bupati Indramayu dua periode, 2000-2010. Pada Pilgub Jabar 2013 lalu, Yance dicalonkan Golkar sebagai gubernur berpasangan dengan mantan Bupati Tasikmalaya Tatang Farhanul Hakim. Namun pasangan Yance-Tatang ini hanya berhasil menempati urutan keempat dari lima pasangan calon, dengan perolehan suara 2.448.358 atau 12,17 persen dari suara sah.

Kendati gagal memenangi Pilgub Jabar 2013, tidak menjadikan karier politik Yance berakhir. Dia lolos sebagai anggota DPRD Jawa Barat dengan perolehan suara terbanyak, yakni 162.103 suara. Yance mendulang suara di daerah pemilihan 10 yang meliputi tiga kabupaten/kota di kawasan pesisir pantai utara Jawa Barat, yakni Indramayu, Cirebon, dan Kota Cirebon. Bahkan, Yance kini menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD Jawa Barat.

Langkah politik Yance diwariskan kepada Daniel. Mantan anggota DPRD Jawa Barat periode 2009-2014 ini berhasil melenggang ke Senayan dengan perolehan suara 91.958. Dia mendulang suara di basis sang ayah, Kabupaten Indramayu dan Kabupaten juga Kota Cirebon.

Atas pertimbangan kekuatan politik Yance dan Daniel yang mengakar di kawasan Pantura, akhirnya DPP Golkar lebih memilih Daniel untuk disandingkan dengan Ridwan Kamil, ketimbang Dedi. Daniel diharapkan bisa mengisi kekurangan Ridwan Kamil yang relatif lemah di wilayah Pantura, namun unggul di wilayah Priangan.

Faktor lain yang menjadi alasan Golkar ‘mencoret’ nama Dedi adalah karena adanya sikap enggan dipasangkan dengan calon nonpartai.

Setelah rekomendasi DPP Golkar jatuh kepada Ridwan Kamil dan Daniel, Dedi tampak gencar melakukan manuver politik lintas partai.

Pada acara Silaturahmi dan Curah Gagasan yang digelar DPD PDIP Jawa Barat misalnya, Dedi hadir sana. Dalam acara yang diadakan di Hotel Horizon Kota Bandung, Rabu (25/10) siang itu, Dedi juga mengungkapkan pemikirannya untuk Jawa Barat ke depan.

Selain itu, Dedi juga menghadiri peringatan Sumpah Pemuda yang digelar DPD PDI Perjuangan Jawa Barat di Sasana Budaya Ganesha (Sabuga), Bandung.

Bahkan Dedi juga tak segan mengakui upayanya melobi PDIP, Hanura, dan Gerindra untuk meraih tiket pencalonan menuju Pilgub Jabar.

Namun, apakah Dedi yang merupakan kader tulen Golkar juga berstatus sebagai Ketua DPD I Partai Golkar Jawa Barat akan maju di Pilgub Jawa Barat dengan dukungan partai lain?

“Kita lihat nanti aja setelah ada keputusan,” jawab Dedi singkat, ketika ditanya sejumlah wartawan usai menghadiri acara Silaturahmi dan Curah Gagasan DPD PDIP Jawa Barat di Hotel Horizon Kota Bandung, Rabu (25/10) siang.

Ditanya apakah akan merapat ke partai lain, Dedi juga menjawab dengan singkat. “Ya, kita lihat dulu keputusannya seperti apa,” tukasnya.

Dia menegaskan, hidup itu mengalir. Visinya untuk maju dalam pilgub bukan visi kekuasaan. “Visi kita ini adalah visi keadilan, di manapun saya berada, saya ingin selalu melakukan perubahan,” tukasnya. (rommy)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here