Masih banyak Cagar Budaya di Tasikmalaya yang Belum Diteliti

0

Tasikmalaya, Voiceofjabar.com – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Kabupaten Tasikmalaya melakukan silaturahmi sekaligus pembinaan terhadap para juru pelihara atau para kuncen cagar budaya yang berada di lingkungan Tasikmalaya, di City Hotel beberapa waktu lalu.

Dedi Abdulah, Kabid Kebudayaan Dinas Pendidikan Kabupaten Tasikmalaya mengatakan silaturahmi tersebut sebagai ajang penyerapan aspirasi dari para juru pelihara cagar atau situs budaya dalam rangka pelestarian nilai-nilai cagar budaya di Kabupaten Tasikmalaya.

“Ya banyak masukan dari para juru pelihara situs yang seyogyanya menjadi komitmen bersama untuk lebih memelihara melestarikan nilai cagar budaya situs di masing masing wilayah,”katanya kepda voiceofjabar.com.

Merujuk data Dinas Pariwisata Kabupaten Tasikmalaya, sedikitnya ada 34 situs budaya yang masih eksis. Namun pihak Dinas Pendidikan & Kebudayaan akan terus mengupgrade data situs yang ada di Kabupaten Tasik. Ke-34 situs yang ada pun harus divalidasi ulang.

“Kan situs-situs di Kab Tasik itu ada yang sudah diteliti ada yang belum. Ini harus terintegrasi antara Disdik dan Dinas Pariwisata dan Badan Arkeologi,”katanya.

Terpisah, Ketua Tim Ahli Cagar Budaya Jawa Barat sekaligus peneliti utama bidang pra sejarah di Badan Arkeologi Jabar, Dr. Lutfi Yondri menyarankan agar pihak dinas terkait menginventarisir seluruh situs budaya di Kabupaten Tasikmalaya.

Menurutnya, perhatian terhadap kebudayaan harus semakin ditingkatkan. Para juru pelihara yang selama ini intens merawat situs budaya harus lebih memiliki pemahaman mendalam soal nilai sebuah benda budaya. Hal itu sebagaimana termuat dalam undang-undang cagar budaya.

“Jadi yang dikelola oleh juru pelihara itu bukan hanya bendanya tapi informasi tentang benda itu. Sejarahnya. Bagaiamana cerita turun temurunnya. Bagaiamana maknanya. Bagaimana peran dan fungsinya di masyarakat,”jelasnya.

Ada banyak usulan dan masukan dari para juru pelihara bahwa di Kabupaten Tasikmalaya masih banyak situs budaya yang belum diteliti oleh Badan Arkeologi. Menurutnya, sebuah sutus budaya dapat diteliti apabila ada yang menginisiasi untuk melakukan penelitian. Misal dari pemerintah setempat.

“Penelitian situs budaya itu bisa diinisiasi pemerintah, kelompok atau pribadi. Yang jelas harus ada yang menginisiasi. Lalu, sinergi dengan kami sebagai tim tenaga ahli,”katanya.

Sejauh ini, pengelolaan situs budaya di Kabupaten Tasik rata-rata atas inisiatif masyarakatnya sendiri. Belum diakomodir pemerintah. Tak heran, masih banyak para juru pelihara (kuncen) situs budaya yang hidupnya bergantung pada respon alam.

“Di Tasikmalaya baru sedikit juru pelihara yang dihonori pemerintah untuk mengelola situs. Saya sarankan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupten Tasik diinventarisir lagi seluruh situs yang ada di tasikmalaya. Nanti kelihatan mana juru pelihara yang sudah digaji pemerintah dan mana yang belum. Juru pelihara harus kompeten dan dibiayai,”tandasnya. (ty)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here