Mahasiswa Berperan Strategis dalam Menangkal Hoax

0

Tasikmalaya, Voiceofjabar.com – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Lafran Siliwangi Tasikmalaya menggelar diskusi publik bertema pemilu damai dan berkualitas di kawasan Jalan BKR, Kota Tasikmalaya, Selasa, (26/02).

Hadir sebagai narasumber Ketua KPU Kota Tasik, Ade Zaenul Muttaqin, Komisioner Bawaslu Kota Tasik, Rino Sundawa Putra dan perwakilan dari Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Tasik.

Ketua HMI Komisariat Universitas Siliwangi, Banyu Giri Setra mengatakan kegiatan tersebut bertujuan memberikan wawasan dan pemahaman kepada peserta yang mayoritas kaum millenial agar lebih arif dan bijak dalam menyerap informasi yang tiada henti bertebaran di jejaring social media.

” Yang memang banyak sekali isu-isu hoax yang tersebar dalam kontestasi pemilu 2019 ini. Begitupun untuk meningkatkan daya partisipatif masyarakat dalam pemilu nanti. Sehingga pemilu yang damai dan berkualitas bisa tercapai,”terangnya kepada media.

Terlebih mahasiswa sebagai kaum intelektual memiliki peran strategis dalam mengawal proses demokrasi sehingga keberlangsungan pemilu dapat berjalan kondusif dan berkualitas.

Sementara itu, Ketua KPU Kota Tasik, Ade Zaenul Muttaqin menegaskan bahwa mahasiswa merupakan kelompok terpelajar yang memiliki peran strategis dalam memberi pencerahan kepada masyarakat.

KPU juga, kata Ade, memiliki program khusus sosialisasi dan pendidikan pemilih kepada pemilih pemula yang di dalamnya ada mahasiswa.

“Sehingga kita bisa bekerjasama dengan organisasi mahasiswa baik intra kampus maupun ekstra kampus dalam sosialisasi kepada masyarakat,”katanya.

Ia pun mengajak masyarakat untuk bersama-sama menyambut dan merayakan pesta demokrasi lima tahunan ini dengan penuh suka cita, riang gembira dan terbebas dari tajamnya sentimentil serta dualisme cebong dan kampret yang saat ini telah meluas.

“Jangan sampai pemilu menghasilkan masyarakat yang terbelah,”harapnya.

Senada, Komisioner Bawaslu Kota Tasik, Rino Sundawa Putra mengutarakan mahasiswa sebagai kaum intelektual harus memiliki kepiawaian dalam menyerap berbagai informasi.

“Mahasiswa akan punya filter. Dalam asumsi ini mahasiswa tidak akan mudah dipengaruhi berita hoax untuk kepentingan tertentu tanpa berfikir dampak yang ditimbulkan,”katanya.

Sisi lain, Rino mengapresiasi kegiatan diskusi dan dialog publik yang mahasiswa tersebut. Terlebih melibatkan bawaslu. Hal ini menjadi kesempatan bagi bawaslu untuk menjelaskan kedudukan hoax dalam pemilu.

“Dari sisi regulasi bagaimana kewenangan bawaslu menindaklanjuti dugaan pelanggaran yang berkaitan dengan penyebaran hoax. Intunya melalui forum ini bawaslu bisa menjelaskan kepada mahasiswa bahwa langkah pertama saat menerima informasi itu harus verifikasi, dicek, atau jika enggan menanggapi, cukup (berita itu) berhenti di kita, supaya tidak meluas,”terangnya.

Ia juga menyampaikan bahwa munculnya istilah cebong dan kampret menjelang pemilu 2019 ini merupakan pemandangan lumrah dalam prosea demokrasi. Sebab, masyarakat masing-masing berhak menyuarakan keinginan dan selera masing-masing.

“Tapi itu sepanjang kedua pendukung tidak melakukan tindakan pelanggaran, sepanjang baik atau tidak meyakinkan ornag lain dengan cara yang tak wajar, tidak black campaign, tentu itu lumrah dalam demokrasi,”tandasnya. (red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here