Kisah Pembuat Dompet Bertarung Di Era Pasar Bebas

0

GARUT, voiceofjabar.com – Bisa bertahan hidup di jaman sekarang sudah beruntung. Semenjak, era globalisasi pasar bebas banyak pengusaha kecil yang gulung tikar dalam menjalankan usahanya.

Berbeda dengan Madi (45) warga Kampung Selaawi, Desa Mekarsari, Kecamatan Cibatu, Kabupaten Garut. Semenjak, perusahaannya tempat ia bekerja di Jakarta gulung tikar sejak lima tahun yang lalu. Ia bersama istrinya mencoba bertahan hidup sebagai pembuat dompet imitasi di rumahnya yang masih menggunakan kayu dan bilik.

PEKERJA Pembuat Dompet, sedang bekerja demi upah

Sejak tahun 2013 lalu, Madi, menjadi pembuat dompet dirumahnya. Beruntung dengan tidak memiliki modal masih ada seorang bos asal Bandung yang mempercayai menjalankan usahanya dengan menyuplai bahan baku untuk di jadikan dompet.

Dalam satu bulan, Madi, yang dibantu 13 pekerja bisa menyelesaikan sebanyak 50 lusin dompet. Setiap satu lusin di bayar sebesar Rp60 ribu oleh bosnya.

“Saya hanya mengerjakan sesuai model yang diberikan oleh pemilik modal. Satu bulan paling 50 lusin bisa selesai,” ujar Madi, Minggu (9/12/2018).

Dikatakan Madi, dalam proses pembuatan dompet dirinya di bantu oleh 13 orang pekerja harian lepas. Yang mana setiap orang bekerja mulai dari membuat pola sampai jadi sebuah dompet.

“Pekerja ada yang sudah rumah tangga dan ada juga anak yang masih sekolah,” ucapnya.

Madi juga mengaku, setiap pekerja di bayar sebesar Rp130 ribu jika pekerjaan pembuatan dompet selesai semua. Untuk pembuatan 50 lusin dompet memerlukan watu 3 minggu.

“Saya di bayar oleh bos sebesar Rp3 Juta untuk pekerjaan 50 lusin dompet. Ya lumayan dengan upah yang relatif kecil bisa bertahan hidup membiayai keluarga dan menyekolahkan tiga orang anak,”

Sementara Andi (17) salah satu pekerja, mengatakan, pekerjaan membuat dompet dilakukan mengisi waktu luang. “Saya sudah pulang sekolah baru ikut kerja membuat dompet. Lumayan, bisa menambah uang jajan,” ujarnya.

Dikatakan Andi, pekerjaan membuat dompet dilakukan sampai pukul 19.00 WIB, setelah itu waktunya di gunakan untuk belajar.

“Upah untuk membuat dompet tergantung waktu pekerjaannya. Paling setiap orang bisa menerima bayaran sebesar Rp150 ribu per tiga minggu,”

Andi mengaku, bekerja sebagai pembuat dompet bukanlah sebuah pekerjaan tetap. Melainkan mengisi waktu luang. “Lumayan kan kalau sekolah sambil kerja bisa membantu orang tua,” akunya.

Dalam pembuatan dompet, kata Andi, pemilik rumah yang juga saudara menggunakan dua mesin jahit. Sehingga wajar saja kalau pekerjaannya lambat.

Setiap pekerja berbeda-beda tugasnya, ada yang membuat pola dompet, mengelem bahan pada karton dan ada juga yang menjahit. Sandi***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here