Kemendikbud Canangkan Gerakan Seniman Masuk Sekolah

0

Tasikmalaya, Voiceofjabar.com – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direktorat Jenderal Kebudayaan mensosialisasikan Undang-Undang Nomor 5 tahun 2017 pasal 11 ayat 1 tentang Pemajuan Kebudayaan di Tasikmalaya, Sabtu, (12/08).

Kegiatan sosialisasi yang dihadiri sejumlah praktisi budaya dan seniman se-Jawa Barat itu menorehkan satu gagasan penting bagi eksistensi nilai-nilai kebudayaan daerah yang mulai rapuh tergerus zaman.

Dirjen Kebudayaan Kemendikbud, Hilmar Farid mengatakan sosialisasi tersebut sebagai jembatan penghubung agar para pelaku budaya memahami peran dan posisi mereka dalam menopang kemajuan kebudayaan nasional.

Hal itu, kata dia, berangkat dari dasar pengertian pemajuan kebudayaan itu sendiri yakni sebagai upaya meningkatkan ketahanan budaya dan kontribusi budaya Indonesia di tengah peradaban dunia melalui perlindungan, pengembangan, pemanfaatan dan pembinaan kebudayaan.

“Makanya forum budaya ini dibuat untuk melihat peran mereka ada di sebelah mana. Karena peran mereka sangat menentukan,”ungkapnya kepada wartawan.

Kunci utamanya, lanjut Hilmar, berawal dari pendidikan. Bagaimana agar pendidikan kebudayaan dapat diperkenalkan kepada siswa-siswi tanpa harus merubah kurikulum sekolah. Saat ini, pihaknya sedang berupaya melengkapi kurikulum yang ada.

“Sebetulnya kurikulum tahun 2013 ruang itu sudah ada. Problemnya soal kelembagaan dan tenaga ahli. Kita kan cukup guru seni sementara masih ada hambatan seperti jarak antar sekolah dan fasilitas kesenian yang ada. Itu masih banyak yang kosong tapi itu langkah yang kita lakukan jadi fokus pada penguatan pendidikan seni kebudayaan secara umum melalui sekolah-sekolah,”jelasnya.

Lebih dalam Hilmar menyebut jumlah guru kesenian dan jumlah sekolah yang tak sebanding juga menjadi kendala tersendiri. Terdapat 1320 seniman sedangkan jumlah sekolah hanya 208 ribu sekolah. Kapan nyampenya?.

Itu pun lebih banyak numpuk di perkotaan. Sedangkan di pelosok tidak cukup. Sebagai solusinya, dibutuhkan gerakan khusus seniman masuk sekolah tanpa harus menambah jumlah guru kesenian.

“Makanya kita punya program gerakan seniman masuk sekolah. Jadi para seniman difasilitasi agar mereka bisa berjalan mengajar di sekolah-sekolah dan pihak sekolah menerima,”katanya.

“Kalau menambah jumlah guru kesenian kita harus menunggu lulus tidak dari program studi keseniannya di S1 atau S2. Nah sambil menunggu itu, para senimanlah yang langsung ditaro si sekolah. Tidak perlu dia menjadi guru tinggal diworkshop dilengkapi metode supaya mengajar tepat sasaran,”pungkasnya. (ty/voj)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here