Keluarga Klarifikasi bahwa Iwan Setiawan (Jajaka Ciamis) Tidak Bunuh Diri

0

Ciamis, Voiceofjabar.com – Mantan Jajaka Ciamis 2014, Iwan Setiawan (26) ditemukan tak bernyawa di Curug Ja’i Sungai Cimaragas, Senin (01/05) lalu. Media setempat mengabarkan bahwa Iwan, warga Desa Cimaragas, Kecamatan Cimaragas, Kabupaten Ciamis itu tewas bunuh diri akibat depresi karena penyakitnya tak kunjung sembuh.

Sontak kabar itu pun ditepis pihak keluarga. Elin Herlina kakak kandung korban menyampaikan bahwa adik kandungnya tidak bunuh diri. Lalu bagaimana kejadian sebenarnya?

Kepada redaksi voiceofjabar.com, Elin pun menceritakan kronologi yang sebenarnya, Rabu, (03/05). Berikut penuturannya:

Kesehatan Menurun

Kira-kira setahunan yang lalu almarhum mulai mengeluhkan ada penurunan kesehatan. Sudah mulai berobat dari dokter ke dokter. Tapi dari hasil pemeriksaan dokter-dokter umum masih biasa katanya. Tapi yang dirasakan justeru berbeda.

Lalu mencoba ke beberapa dokter spesialis dalam di Banjar dan di Ciamis.  Katanya asam lambung, radang pencernaan dan sebagainya. Sembari berobat jalan, almarhum juga sambil menyelesaika skripsinya. Alhamdulillah Tanggal 31 Agustus tahun lalu lulus sidang skripsi dengai nilai terbaik. 

Divonis Hyperteroid

Pengobatan masih terus dilakukan. Akhirnya keluarga memutuskan agar almarhum dirawat di RS Jasa Kartini, Tasikmalaya. Setelah observasi beberapa kali, diagnosa awal jantung dan ginjal. Tapi dikasih rujukan ke RS TMC. Akhirnya dilanjutkan pengobatan. Hasil diagnosa, alhmarhum divonis kena hypertiroid. Kelebihan hormon tiroid.  Berdasarkan pemeriksaan sampai di atas 100. 

Jadi istilahnya sudah sampai ke otak. Makanya kadang sering linglung dan tidak sadar apa yang dibicarakan dan apa yang dilakukan. Demikian kata dokternya. Rekam hasil medik semuanya ada.

Diobati di pesantren

Perlu diketahui selama kurang lebih setahun itu memang almarhum sering ngelantur yang gak jelas. Makanya selain secara medis juga non medisnya ditempuh karna kan penasaran. Sudah beberapa kali melakukan semcam ruqiyah. Sekitar 7 bulanan lah sudah mulai agak sering gejalanya itu. 

Palih parah itu sekitar 2,5 bulanan ke belakang. Makanya ibu saya memutuskan untuk dirawat dan “dipesantrenkan” di tempat alternatif di Tasikmalaya. Tapi tenyata belakangan diketahui di sana itu justru apa yang ditawarkan di awal sama sekali tidak sesuai dengan kenyataannya. Kasarnya ada indikasi “kekerasan”.

Makanya kemarin hari Rabu almarhum berusaha melarikan diri dari tempat itu tapi ketahuan dan dibawa dengan paksa ke tempat itu lagi sama pihak psantren. Tapi karena lagi sadar, almarhum berontak tidak mau dibawa lagi ke sana sehingga jatuh dari motor dan luka-luka.

Mendengar berita itu, pihak keluarga memutuskan untuk mmbawa pulang saja. Akhirnya rabu malam itu juga dijemput dan ternyata kondisinya menghawatirkan. Kondisi mental lebih parah pun kondisi fisiknya. Pihak keluarga selama 2 bulan setengah dilarang menemui pasien dengan alasan-alasan yang gak jelas.

Pulang dan Ngelantur 

Kamis hari pertama di rumah, almarhum diajak berpuasa sama ibu dan alhmdulillah tamat sampai magrib dan kelihatannya tenang. Malah sempat cerita banyak selama berada di pesantren itu. Sampai kami pihak keluarga merasa sangat  dikecewakan karena sama sekali tidak sesuai dengan biaya yang mahal dengan pelayanan dan justru tidak diterapi sama sekali.  hanya dikurung sendiri di kamar. 

Besoknya hari Jumat mulai ngelantur lagi lebih parah. Berbicara urusan akhirat, malaikat, neraka, surga dan sebagainya.  Sama sekali di luar pemikiran normal. Semalaman nangis tidak bisa diajak komunikasi. Tapi subuhnya masih bisa diajak sahur untuk berpuasa. Hari Sabtu sampai jam 12 siang masih berpuasa tapi tidak berhenti ngelantur.  Seperti sudah tidak mengenal dirinya sendiri. 

Pergi dari Rumah

Akhirnya jam 12.30 siang almarhum keluar rumah. Adiknya yang perempuan melihatnya pergi ke arah belakang. Dikira mau ke makam bapak. Tapi agak lama maka ibu inisiatif mau menjemputnya. Dipanggil-panggil gak jawab. Akhirnya kelihatan lagi duduk di bawah pohon. Dipanggil sama ibu malah lari ke arah hutan dengan kondisi di sikut tangan keliatan seperti ada darah kata ibu. 

Ibu kembali ke arah rumah mencari temen buat ngejar Iwan. Langsung pada saat itu juga warga mencari bahkan sampai hampir tengah malam. Tapi tidak ditemukan juga. 

Keesokan hari, Minggu (30/04) pencarian dilanjutkan bahkan dengan mengerahkan lebih banyak lagi warga. Namun tetap tidak ditemukan. Warga hanya mndapat jejak darah (tidak banyak) di sebuah saung seperti bekas tidurnya bahkan ada sebuah poci plastik berisi air (air kolam).

Kami menduga semalam dia istirahat di sana dan berbuka puasa dengan air kolam itu. Kuat dugaan saat itu dia sadar ingin pulang tapi dia bingung dan lemas. Sementara itu masih pada hari kedua pencarian dilanjutkan sampai magrib. Masih tidak ditemukan. Hanya ditemukan jejak-jejak kakinya. 

Ditemukan Tewas 

Warga pun lelah. Lalu diputuskan untuk melanjutkan pencarian besok hari Senin, (01/05). Senin pagi tetangga samping rumah berinisiatif mencari sendiri sambil nunggu warga lainnya menyusul.

Ternyata dia menemukan almarhum dalam kondisi sudah tidak bernyawa di curug katanya. Ada bekas kaki tergelincir di atasnya. Karena almarhum tidak pakai sandal, kuat dugaan almarhum berusaha pulang tapi karna linglung kondisi lemah selama dua hari belum mendapat makanan karena sambil puasa. Otomatis pada saat melewati tempat itu, menginjak batu licin dia tergelincir dan jatuh ke sungai.

Kami pihak keluarga sama sekali tidak punya pikiran dia bunuh diri. Kalaupun dia berniat bunuh diri menjatuhkan diri ke sungai harusnya sudah ditemukan jasadnya di awal pencarian hari Sabtu. 

Malah di sungai tempat almarhum ditemukasudah bebebrap kali dicek dan di selami sama beberapa orang. Bahkan sampai hari Minggu sore pun tempat itu masih cek. Tidak ada mayat. Baru ketemu senin pagi dan kondisinya memang masih berdarah di sekitar wajahnya dan biru di kepalanya seperti akibat benturan keras. Jadi belum lama meninggalnya. Perkiraan sekitar waktu subuh, Senin. 

Begitulah kondisi sebenarnya. Tidak ada yang bisa dijadikan alasan bahwa dia bunuh diri dalam keadaan sadar. Malah belum lama setelah dijemput dari Tasik ketika sadarnya dia masih punya cita-cita yang panjang. Rencana kan dia menikah habis lebaran tahun ini. Sudah bertunangan. (ty/red)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here