Kata Dedi Mulyadi, Ibu-Ibu yang Jualan di Pasar Punya Spirit Kartini yang Sebenarnya

0

Tasikmalaya, Voiceofjabar.com – Calon Wakil Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi bersafari ke beberapa tempat di Tasikmalaya, Sabtu, (21/04). Salah satunya ke Pasar Cibeuti, Kawalu, Kota Tasikmalaya.

Di sana, ia menjumpai beberapa pedagang pasar yang mayoritas kaum hawa sekaligus memborong dagangan yang dijajakan seperti telur, tempe, opak dan rengginang. Dedi mengaku salut dengan semangat para ibu yang tetap gigih berjuang mencari nafkah meski di usia yang tak lagi muda.

Melihat semangat kaum ibu tersebut, Dedi pun memaparkan sekelumit pemahaman terkait spirit Kartini yang sebenarnya. Menurutnya, hari Kartini dewasa ini masih dipahami dan dipraktikan secara ekslusif dan hanya dijadikan perayaan ceremonial semata.

Seperti diramaikan peringatan tiap tanggal 21 April, berhias ke salon, kompak berkostum kebaya seharian, perayaan lomba-lomba fashion dan lain sebagainya.

“Padahal yang sebenarnya Kartini di kita adalah penggerak ekonomi. Tanpa harus mereka punya kedudukan formal, tanpa harus berdandan pergi ke salon, mereka giat bekerja. Coba lihat di pasar-pasar. Mayoritas pedagang itu wanita, di areal pertanian juga banyak wanita. Itu spirit Kartini di kita yang sebenarnya,”terang Dedi kepada awak media.

Sesungguhnya, lanjut Dedi, kaum wanita di Indonesia adalah wanita yang memiliki peran yang hebat. Tak hanya hebat dari sisi profesi formal, melainkan mereka dapat tampil produktif sama dengan dengan kaum pria.

Akan halnya, sambung Dedi, para wanita harus diberi kemulyaan dengan cara meringankan beban kehidupan mereka terutama menyangkut urusan dapur. Misal dengan menurunkan harga sembako. Harga kebutuhan hidup mereka tidak boleh dibiarkan mencekik dan menyulitkan.

Dengan demikian, semangat kaum hawa pun terbangun dan dapat bekerja lebih produktif lagi.

“Saya katakan bahwa meringankan beban kaum Kartini itu gampang sebenarnya. Turunkan harga sembako, tingkatkan produktifitas mereka sehingga beban mereka berkurang, angka depresi mereka menjadi rendah,”terangnya.

Di hari yang sama, Dedi pun turut mencicipi sajian nasi liwet kombinasi beragam lauk pauk bernuansa kuliner sunda buatan ibu-ibu kampung setempat.

Selain itu, Dedi bersama warga juga sempat terjun basah-basahan “ngubek balong” atau turun ke kolam mencari ikan dengan menggunakan alat tangkap ikan tradisional. (ty)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here