Idul Fitri, Evaluasi Laku Lampah

0

Voiceofjabar.com – Idul Fitri merupakan salah satu momentum paling menggembirakan bagi umat muslim di seluruh penjuru dunia. Selain dihiasi oleh tradisi pulang kampung atau mudik bagi para perantau, kesempatan Idul Fitri menjadi ritual khusus untuk bercengkrama dan saling membubarkan segala kesalahan dan dosa antar sesama keluarga, kerabat, handaitolan dan orang-orang sekitar.

Di hari nan fitri itu, pintu maaf terbuka lebar. Bahkan api kebencian, dendam dan segala kesalahan berguguran seketika dengan tradisi bermaaf-maafan. Semuanya larut dalam kegembiraan kolektif yang teramat mahal nilainya.

Idul Fitri merupakan penyegaran atau refreshing bagi kaum muslimin dari kejenuhan hidup, merefleksilan diri serta bahan evaluasi diri dari segala tindak laku lampah selama 11 bulan sebelumnya. Sehingga kehadiran lebaran setahun sekali ini menjadi tonggak pembaharuan batin seseorang dalam menempa jejak di episode kehidupan selanjutnya.

Meski demikian, sebenarnya makna bermaafan tidak hanya dilakukan di Idul Fitri, namun tahun Hijriah, tahun Saka, atau perayaan agama manapun memiliki makna yang sama. Yaitu untuk berevaluasi melalui saat-saat tersebut, begitulah kita memaknai hidup agar lebih baik lagi.

Hanya saja cara penyampaian masing-masing agama berbeda-beda. Kendati semua perayaan keagamaan memiliki makna yang sama bermaafan saat Lebaran sebaiknya tidak hanya berlaku untuk hari H saja. Namun, harus selalu dilakukan kapanpun umat muslim berinteraksi dengan manusia lainnya.

“Idul Fitri memang memiliki makna saling bermaaf-maafan, tapi sebaiknya hal itu menjadi pengejewantahan setiap hari. Jadi kesalahan bukan ditumpuk lalu di saat Idul Fitri baru meminta maaf. Kita harus mewarnai hidup tidak dengan simbolik saja, tapi harus perfectif dalam keseharian. Karena saling memaafkan bukan untuk sekali, tapi setiap manusia dalam kehidupannya pasti berbuat salah. Jadi saat berbuat salah, saat itu pula harus meminta maaf,” ungkap psikolog Tika Bisono MpSi seperti ditulis okezone.com.

Menurutnya maaf-maafan ada di hari Senin, Selasa, Rabu, dan di semua hari. Karena setiap problematik manusia itu memang seharusnya saling memaafkan. Tapi, tidak semua manusia dapat melakukan hal itu. Terkadang merasa gengsi hati atau malas ngomong atau bahkan merasa sosial lebih tinggi, sehingga rohnya saling memaafkan belum masuk di dirinya.

“Momentum untuk pencairan itu memang pas di Lebaran. Jadi sungkeman atau bersalaman hanya sekadar simbolis saja, rohnya justru harus menyentuh hati nurani manusia yang bersangkutan sudah saling memaafkan atau belum,” papar mantan Puteri Remaja 1978 ini.

Hal itu dipercaya lantaran ajang sungkeman atau bersalaman hanya sebatas ritual, sementara jika hati belum memaafkan, maka hari yang suci pun tidak dapat dirasakan oleh setiap umat manusia. Karena itu, bermaafan harus dilakukan kapan pun kita melakukan salah.

“Kendati setelah bermaafan kembali melakukan salah, terpenting sudah ada perbaikan, Artinya selama ada pengurangan frekuensi salah dan dosa yang membuat kita harus minta maaf, maka hakikatnya sebagai manusia kita sudah bisa saling memahami,” tandas ibu tiga anak ini. (red/okz)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here