God Bless Tebarkan Virus Perdamaian Lewat “Cermin 7”

0

Jakarta, VoiceOfJabar.com – Setelah tujuh tahun vakum dari dunia rekaman, God Bless menutup 2016 lewat peluncuran album terbaru: Cermin 7. Judul ini merujuk pada penggabungan dua informasi. Angka tujuh menunjukkan jumlah volume album yang pernah dihasilkan. Album terakhir, 36, dirilis pada 2009 atau tujuh tahun lalu. Adapun Cermin merupakan album kedua yang dirilis pada 1980 melalui label JC Record. Sembilan lagu dari album inilah yang diaransemen ulang ditambah tiga lagu baru berjudul “Kukuh” (diciptakan oleh Donny Fattah/Diah Pitaloka), “Bukan Mimpi Bukan Ilusi” (Ian Antono/Teguh Esha) serta “Damai” (Ian Antono/Teguh Esha).

Dengan memilih judul terakhir sebagai single, God Bless bermaksud menyampaikan seruan kepada negeri ini untuk bersama membangun dan menjaga suasana damai. Nampaknya suhu pertentangan yang setiap hari berseliweran di berbagai pemberitaan diam-diam mengusik keprihatinan mereka. Secara kebetulan, ketika notasinya tengah dibuat muncul Teguh Esha. Sudah lama mereka tidak saling jumpa. Wartawan dan novelis yang namanya meroket berkat Ali Topan Anak Jalanan ini kemudian tergerak untuk menyiapkan liriknya.

“Semula liriknya berat banget dan sepertinya sulit untuk dipahami, padahal seruan damai itu harus mudah dimengerti oleh semua orang. Akhirnya gue minta ganti,” kata Ian Antono. Hasilnya, lirik versi baru ini lebih menyatu dengan aransemen yang mengentak dan menawarkan harapan.

Album Cermin 7 akan beredar dalam format digital, CD, vinil dan dicetak dalam jumlah terbatas. “Kami akan memproduksi CD dan vinil hanya sebantak 777 kopi saja,” jelas Achmad Albar. Kuantitas ini lahir dari pertimbangan khusus bahwa angka tujuh banyak memiliki keterkaitan dengan kemunculan God Bless kali ini. “Kami vakum dari dunia rekaman selama tujuh tahun. Single ‘Damai’ secara resmi dirilis tanggal 17.”

Sampul album ‘Cermin 7’ dari God Bless. (God Bless Management)
Kalau mau lebih melengkapi, tahun ini usia Albar juga memasuki kepala tujuh. Tapi secara berkelakar ia menyatakan tak pernah berpikir untuk pensiun dari dunia musik.

Dengan rentang karir selama 43 tahun (band ini dibentuk di Jakarta pada 5 Mei 1973), para personel God Bless tidak ambil pusing dengan jumlah albumnya yang terkesan irit. Bahkan Donny Fattah yang dikenal produktif menciptakan lagu pun terlihat santai setiap kali menjawab pertanyaan ihwal minimnya album yang pernah dihasilkan God bless. Bagi pria kelahiran Makassar, 24 September 1949 ini, album rekaman lebih merupakan sarana untuk dapat tampil di atas panggung, bukan tujuan utama.

“God Bless itu band rock & roll. Kami nggak pernah terpikir untuk mengeluarkan abum rekaman secara rutin. Mengalir sajalah,” ujar Donny.

Pertanyaannya, kenapa seluruh materi Cermin dipilih untuk diangkat kembali? Setidaknya dari enam album studio sebelumnya ada God Bless (Pramaqua, 1975) dan Semut Hitam (Logiss Records, 1988) yang dianggap fenomenal. Yang pertama merupakan kompilasi dari dua buah film yaitu Laila Majenun (“Huma Di Atas Bukit” dan “Sesat”) dan Semalam Di Malaysia yang kemudian menjadi pintu masuk God Bless ke dunia rekaman. Sementara album Semut Hitam sering dikaitkan dengan keberhasilan mereka mengawinkan unsur kualitas dan komersial, sehingga album yang diproduseri oleh Log Zhelebour ini tercatat sebagai karya God Bless terlaris.

Dibanding kedua album tersebut Cermin dianggap paling ambisius karena menabrakkan elemen pop dengan rock progresif. Imaji kreatif terkesan dibiarkan liar. Pemilihan tema pun beragam, mulai dari bicara kegelisahan, kritik sosial hingga sejarah. Abadi Soesman selalu mengenang album tersebut sebagai simbol perlawanan terhadap dominasi label ketika itu yang cenderung mendiktekan kepentingan. Teddy Sujaya, mantan drummer God Bless, malah punya cerita menarik bagaimana Cermin dibuat tanpa persipan konsep yang matang.

“Kami baru berpikir tentang konsep setelah berkumpul di studio,” ujar Teddy suatu ketika.

Ia mencontohkan “Anak Adam” yang lahir ketika para personel jamming, saling merespons permainan melalui estetika masing-masing dan mereka mengaku kebingungan untuk menciptakan bagian koda. “Jadi kami bermain terus, sahut-sahutan, hasilnya seperti itu,” katanya terkekeh.

Selain mengandalkan spontanitas, Cermin digarap pada saat teknologi rekaman masih terbilang sederhana. Banyak ide yang sulit terwujud dikarenakan keterbatasan. Pertimbangan inilah antara lain yang mendorong God Bless untuk membuka kembali salah satu artefaknya. Menariknya, baik Achmad Albar (vokal), Ian Antono (gitar), Donny Fattah (bass) dan Abadi Soesman (keyboard) adalah para pelaku yang hingga kini tetap berkumpul di bawah satu bendera.

God Bless. (Evan Antono)
Banyak unsur pembeda yang menjadikan album Cermin 7 lebih dari sekadar proyek “kerinduan”. Dibanding versi asli, aransemen lagu-lagunya kini jauh lebih kaya dan megah. Salah satu unsur indikasi keberhasilannya datang dari permainan drum Fajar Satritama yang belum terlalu lama bergabung untuk menggantikan Yaya Moektio. Sebagai personel termuda, pola permainannya yang rapih namun tetap bertenaga berhasil mengimbangi karakter para seniornya. Padahal ketika menerima musik dasar untuk ketiga lagu baru tadi dia sama sekali tidak diberi patokan bagian mana saja yang harus diisi olehnya.

“Gue meraba-raba sesuai dengan imajinasi sendiri. Beruntung untuk lagu-lagu dari album Cermin sudah ada gambaran sebelumnya,” tukas Fajar.

Ian Antono yang melakukan persiapan album ini dari hulu sampai hilir mengaku puas dengan kehadiran salah satu pendiri Edane itu. Fajar tidak banyak melakukan perubahan drastis pada struktur lagu-lagu God Bless yang pada umumnya berpegang pada pakem harmoni, namun siapa pun tak akan menyangkal bahwa corak pukulannya sangat berhasil mempertahanan kesegaran.

Lahir di Jakarta pada 11 Juli 1970, Fajar Satritama muncul pertama kali dengan God Bless pada perhelatan Java Jazz 2012. Sejak saat itulah mereka kerap terlihat bareng di berbagai kesempatan. Album Cermin 7 adalah kali pertama Fajar menunjukkan totalitasnya. Meski demikian, ia mengaku tidak ingin begitu saja melupakan Edane, band yang telah membesarkan namanya. Edane dan God Bless merupakan band dengan konsep musik berlainan, dan dia merasa nyaman berada di antara keduanya.

Dengan menampilkan “Damai” sebagai single pertama, kebangkitan God Bless tidak hanya menunjukkan eksistensi dengan karya yang merespons zaman, tetapi juga sekaligus memperlihatkan kegigihan para personelnya menolak tua. Lihatlah bagaimana Achmad Albar berikrar pada dirinya sendiri.

“Saya akan terus berkarya selama God Bless ada,” koar Albar. (rollingstonesindonesia)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here