“Gempa Purba, Indonesia sudah mendekati waktunya”

0

Voiceofjabar.com – Merujuk data World Earthquake, Indonesia menempati urutan kedua sebagai negara dengan potensi gempa besar setelah Jepang pada September 2019.

Hal tersebut dikuatkan dengan posisi Indonesia sebagai daerah cincin api yang berada di tiga titik pertemuan lempeng Eurasia, Australia, dan Pasifik.

Gempa di Indonesia terjadi salah satunya karena adanya sesar yaitu patahan atau titik gempa purba yang lama mati dan hidup kembali karena terpacu gempa besar.

Dilansir laman gelora.co, Kabid Humas Taruna Siaga Bencana (Tagana) Provinsi Jatim, Gus Ibrohem mengatakan pemahaman bencana menjadi sangat penting dipahami bagi masyarakat.

“Gempa purba ini mati suri dan memiliki durasi tiap empat abad, dan Indonesia sudah mendekati waktunya,” terang Gus Ibrohem.

Jika dilihat sekitar 400 tahun lalu, dalam data sejarah diduga bahwa gempa purba yang mengakibatkan gelombang tsunami besar terjadi sekitar tahun 1584 atau 1586.

Menurut mitos pada tahun tersebut merupakan lahirnya legenda Ratu Laut Selatan Nyi Roro Kidul yang terkenal dengan ombak pantai selatan yang ganas juga ditakuti. Metode berdasarkan mitos tersebut juga dikenal sebagai geomitologi.

Pergeseran Sesar Kendeng juga disinyalir menjadi penyebab hilangnya Kerajaan Kalingga yang dikenal memiliki ratu termasyhur bernama Ratu Shima (674-695 Masehi).

“Gempa telah menjadi ancaman sejak Kerajaan Kalingga dengan Ratu Shima. Kerajaan ini hilang dan musnah. Jika banyak ditemukan barang kerajaan di dalam tanah adalah peninggalan pada masa tersebut yang terpendam akibat gempa,” tambahnya.

Bahkan dalam Babad Tanah Jawi dan Negara Kertagama juga terdapat saduran tentang bencana gempa yang dikaitkan dengan tsunami bernama “pabanyu pindah”, melanda wilayah Majapahit bersamaan dengan lahirnya Hayam Wuruk pada tahun 1334.

“Untuk bisa memastikan kita harus belajar rekam jejak bencana di masa lalu. Gempa dengan siklus tiap empat abad sekali ini menjadi ancaman yang harus diwaspadai oleh warga dengan cara meningkatkan pemahaman bencana,” imbau Gus Ibrohem yang juga pernah menjadi navigator dalam pencarian korban gempa di Lombok tersebut.

Benang merah tidak bisa diputus sedemikian rupa karena untuk mewujudkan kejayaan negara dari segala sisi perlu belajar dari masa lalu.

“Ini yang harus ditumbuhkan agar bisa mengurangi resiko bencana kalau mau belajar rekam jejak bencana yang kita lalui,” demikian ia mengingatkan.

Peta Sesar Kendeng sendiri menyambung dari Lembang Bandung, Semarang, Jawa Timur hingga NTT. Cirinya setiap ada jalan sudah diperbaiki baik dipaving maupun dihot mix selalu akan timbul retakan sebagai bentuk energi tanah gerak yang berpotensi sesar.

Di Jawa Timur yang perlu diwaspadai adalah Wilayah Gresik, Surabaya, Sidoarjo, Bangkalan, dan sebagian Mojokerto karena bisa terdampak oleh pergeseran sesar tersebut. (red/den)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here