Galunggung Diharapkan jadi Obyek Wisata Ekonomi Kreatif

0

Tasikmalaya, Voiceofjabar.com – Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya melalui Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olah Raga mengelar acara Memory of Galunggung (MOG) yang ke-8 dipusatkan di kawasan Cipanas, Galunggung, Senin, (10/04).

Hajat tersebut dalam rangka peringatan 35 tahun meletusnya Gunung Galunggung. Tepatnya 5 April 1982. Kegiatan letusan sendiri berlangsung selama 9 bulan dan berakhir pada 8 Januari 1983.

Dalam perjalanannya, kondisi Galunggung berangsur pulih bahkan menuai berkah tersendiri bagi masyarakat sekitar. Kini, Galunggung menjelma menjadi sebuah destinasi wisata di Tasikmalaya yang banyak dikunjungi.

Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Tasikmalaya Asep Saepul Bachri mengatakan gebyar Memory of Galunggung tersebut dapat merangsang semangat berbagai pihak untuk mengembangkannya.

“Prinsipnya bagaimana bisa lebih menarik wisatawan. Galunggung milik kita semua,” katanya dijumpai di lokasi gebyar.

Ia pun berharap pesona Galunggung tak hanya dijadikan sebagai destinasi wisata alam semata. Melainkan dijadikan  pula sebagai objek wisata ekonomi kreatif. Sehingga Galunggung semakin berwarna dan meningkatkan profit bagi PAD.

“Bagaimana mengembangkan destinasi wisata dikerjasamakan dengan ekonomi kreatif. Ini akan memiliki daya tarik tersendiri.Tentu harus ada dukungan anggaran,”ujarnya.

Pada periode pasca letusan (yaitu sekitar tahun 1984-1990) merupakan masa rehabilitasi kawasan bencana, yaitu dengan menata kembali jaringan jalan yang terputus, pengerukan lumpur/pasir pada beberapa aliran sungai dan saluran irigasi (khususnya Cikunten I), kemudian dibangunnya check dam (kantong lahar dingin) di daerah Sinagar sebagai ‘benteng’ pengaman melimpahnya banjir lahar dingin ke kawasan Kota Tasikmalaya.

Pada masa tersebut juga dilakukan eksploitasi pemanfaatan pasir Galunggung yang dianggap berkualitas untuk bahan material bangunan maupun konstruksi jalan raya. Pada tahun-tahun kemudian hingga saat ini usaha pengerukan pasir Galunggung tersebut semakin berkembang, bahkan pada awal perkembangannya (sekitar 1984-1985) dibangun jaringan jalan Kereta Api dari dekat Station KA Indihiang (Kp. Cibungkul-Parakanhonje) ke check dam Sinagar sebagai jalur khusus untuk mengangkut pasir dari Galunggung ke Jakarta. (tys)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here