Di Bale Indung Rahayu, Bupati Dedi Jelaskan Makna Rumah Adat Sunda

0

Purwakarta, Voiceofjabar.com – Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi menjelaskan beberapa makna dan kaidah di balik gambar yang terpampang di dinding dalam Bale Indung Rahayu. Salah satunya filosofi rumah adat sunda. Secara horizontal rumah adat sunda berarti hubungan duniawi antara orang dalam dan orang luar, dan ruang perempuan dan laki-laki.

Rumah, kata Dedi, pada umumnya terdiri dari tiga susunan yakni ruang depan (tepas), ruang tengah dan ruang belakang (dapur dan goah/padaringan/tempat penyimpanan padi). Semua itu disebut juga Tri Tangtu atau tiga keniscayaan dalam hidup. Pasti dan benar adanya.

Ruang depan berarti tempat orang luar bertamu. Pemilik dan orang luar berinteraksi di sana. Siapapun boleh melihatnya. Bahkan singgah pun jika ada keperluan dipersilahkan. Segenap obrolan dengan beragam topik dan tema pembahasan tercurah di ruang depan.

“Nah, dalam diri manusia ada akal dan pikiran. Itulah ruang depan. Di situ tempat kita berpendapat. Bebas bertukar pikiran satu sama lain. Tidak ada larangan,”jelas Dedi.

Kedua, ruang tengah. Dedi menafsirkan ruang tengah plus kamarnya sebagai tempat pribadi, privasi pemilik rumah yang tak boleh diganggu oleh siapapun. Rahasia pemilik rumah seluruhnya ada di ruang ini.

“Ini ruang tertutup. Tempat interaksi lelaki dan perempuan secara harmoni. Itulah hati manusia. Soal keyakinan, sikap hidup ada di hati. Orang lain tidak boleh mengganggunya. Karena itu bersifat privasi,”terangnya.

Dan yang ketiga ruang belakang yakni dapur dan goah yang merupakan gudang logistik pemilik rumah. Di bagian ini juga terlarang bagi orang luar untuk mengetahuinya. Menurutnya, filosofinya adalah pembuangan.

“Itulah perut tempat berkumpulnya makanan dan minuman yang akhirnya harus dibuang lewat jalur pembuangan manusia,”katanya.

“Salahnya kita sekarang bikin rumah di ruang tengah ada kamar, di samping kamar dibuat WC. Ini salah. Harusnya WC itu di belakang. Makanya urusan belakang jangan dibawa ke ruang depan atau ke ruang tengah”terangnya lagi.

Dedi menjelaskan, Museum Bale Indung ini untuk memperingatkan manusia kepada sosok ibu yang melahirkan dan ibu alam yaitu tanah air ini, termasuk mengenai kehidupan.

Di dalamnya bercerita tentang peristiwa hidup dan kehidupan di alam, ada juga mengenai budaya Sunda, permainan, makanan kemudian pola hidup manusia, rumah, areal pertanian, hingga kematian.

“Seluruh filosofi dasar dari museum ini adalah bercerita tentang filosofi dasar Sunda sebagai nilai yang memiliki ajaran tentang falsafah hidup dan lingkungan,” pungkasnya. (den)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here