Yasinan door to door ala Karang Taruna Insan Lebod Disambut Positif

BANJAR, Voiceofjabar.com — Karang Taruna Insan Lebod yang berlokasi di lingkungan Tanjungsukur, Hegarsari, Kecamatan Pataruman, Kota Banjar, Jawa Barat setiap malam Jum’at selalu mengadakan kegiatan yasinan keliling ke rumah-rumah.

Saepul Ketua Karang Taruna Insan Lebod mengatakan yasinan keliling ini memberi banyak manfaat. Selain diharapkanmenjadi sebuah kebaikan secara personal, tradisi yang sudah berjalan satu tahun terakhir ini juga diharapkan memperkokoh silaturahmi antar warga.

“Setiap malam jum’at kegiatan yasinan keliling ini berpindah-pindah tempat dari rumah ke rumah,” ucapnya.

Ade Juju Kurniawan, Ketua  RT.04 RW.15 Lingkungan Tanjungsukur mengapresiasi kegiatan yasinan keliling yang dimotori oleh Karang Taruna ini.

“Saya sangat dukung kegiatan yasinan keliling ini, apalagi kegiatan ini sangat positif,”katanya. (Sep)

DPRD Jabar Apresiasi MQK 2019

Tasikmalaya, Voiceofjabar.com – DPRD Provinsi Jawa Barat mengapresiasi dan menghargai kegiatan MQK 2019 yang diselenggarakan di Pesantren Cipasung, Kabupaten Tasikmalaya, Selasa (15/10/2019).

Wakil Ketua DPRD Provinsi Jawa Barat, H Oleh Soleh, SH mengapresiasi kegiatan tersebut sebagai bentuk peran serta pemerintah dalam menyukseskan Jabar Juara Lahir Bathin. Selain itu juga dalam rangka menyambut Hari Santri pada 22 Oktober nanti.

“Yang paling penting adalah bagaimana untuk menjaga kultur dan tradisi ‘sorogan’ atau dengan ‘ngalogat’ kitab kuning yang kini sudah mulai memudar,” ujar Oleh seusai mengikuti pembukaan MQK 2019.

Bahkan, lanjut dia, ada pemahaman bahwa belajar agama cukup dengan membaca ataupun berselancar didunia maya untuk mendalami agama justru memberikan pengaruh ke arah yang salah. Sehingga terjadi pemaknaan hukum-hukum islam yang melenceng dari yang sesungguhnya.

“Sebagai contoh dalam memaknai jihad yang cenderung melenceng akibat salah tafsir. Sehingga menimbulkan faham radikalisme,” katanya.

Dewan berharap, MQK ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah tetapi tanggung jawab semua umat muslim. Peran serta dan kewajiban pemerintah untuk menjalankan kegiatan tersebut.

“Pemerintah harus supporting fasilitas dan pembiayaannya,” tandasnya.

Wakil Gubernur (Wagub) Jawa Barat Uu
Ruzhanul Ulum mengatakan,
Kegiatan tersebut sebagai salah satu akselerasi visi misi Jabar Juara Lahir dan Bathin dimana yang didorong adalah juara bathin. Jumlah pesantren di Jawa Barat terdapat 10 ribu dimana definisi pesantren dalam undang-undang harus ada kitab kuning dan harus ada kiayi.

“Salah satu daya dorong untuk memberikan semangat kepada santri untuk belajar kitab kuning dengan melombakannya melalui MQK ini. Sejauhmana dan bagaimana para santri dapat memahami tata cara membaca kitab kuning dan tahfidul uthun yakni mempelajari dan menalar
kitab-kitab kuning lainnya,” ujar Uu.

Sehingga, kata dia, kegiatan ini mampu memberikan semangat kepada para santri untuk lebih giat belajr dan juga memberikan motivasi kepada anak-anak yang belum tau tentang pesantren dan juga tentang MQK.

“Khususnya para orang tua, dapat memasukkan anak-anaknya ke lingkungan pesantren,” ucapnya.

Selain itu, kata Uu, dirinya merasa bangga sebab penyelenggaraan MQK 2019 diikuti oleh 800 peserta dari 27 kabupaten kota di Jabar.

“Kami berharap agar MQK tahun depan didorong oleh bupati walikotanya untuk
mengikutsertakan warganya. Selama ini peserta mengikuti kegiatan MQK ini dengan swadaya pesantren dan dibantu kementrian agama di kabupaten kota,” katanya.

Uu menambahkan, hal itu untuk menyukseskan Hari Santri yang diperingati setiap tanggal 22 Oktober yang akan diisi dengan berbagai kegiatan.

“Pada peringatan Hari Santri nanti diawali dengan upacara dengan mengenakan pakaian santri (bersarung-red) dan setelah itu diantaranya ada jalan sehat yang dimulai dari Gedung Sate,” pungkasnya. (red)

Wagub Jabar Memotivasi Remaja Masjid se-Indonesia

KAB. SUKABUMI, Voiceofjabar.com — Wakil Gubernur Jawa Barat Uu Ruzhanul Ulum membuka kegiatan Camp Religi Nasional Mujahid Brigade Masjid Tahun 2019. Kegiatan kemah ini digelar Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) di Asrama Haji Cikembar, Kabupaten Sukabumi, Jumat (11/10/19).

Pada kesempatan ini, Uu  memotivasi 1.300 remaja masjid yang datang dari seluruh Indonesia. Dia meminta para remaja untuk terus memakmurkan masjid melalui berbagai kegiatan.

Menurut Uu, lembaga masjid mempunyai tujuan untuk membangun umatnya menjadi pribadi yang berkarakter. Hal itu akan membentuk generasi muda.

“Saya berharap para pemuda remaja yang belum aktif untuk aktif di masjid. Karena di sana (masjid) ada pembangunan karakter, yaitu pembangunan mental yang diberikan oleh para ustaz dan para kiai dalam setiap kesempatan,” ucapnya.

“Oleh karena itu, saya berharap remaja di seluruh Indonesia bisa mengenal masjid, berangkat dan kembali ke masjid, manfaatkan masjid untuk sarana ibadah dan kehidupan sosial yang lain,” tambahnya.

Bagi Uu, masjid memiliki berbagai aset. Aset terpenting sebuah masjid adalah jamaahnya.

“Aset yang terbesar dalam sebuah bangunan masjid, bukan karpet yang empuk dan tebal, bukan sound system yang bagus dan menara yang megah. Tapi disamping itu ada jamaah, jadikan jamaah sebagai aset masjid yang paling hebat dan paling diperhatikan terutama dalam pembangunan network atau jaringan antara ulama dan umara, antara pemimpin dan rakyatnya,” kata Uu.

Uu pun mengajak BKPRMI Jawa Barat agar terlibat langsung dalam program keagamaan yang digagas oleh Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat, seperti Maghrib Mengaji, Subuh Berjamaah, dan Kredit Mesra.

“Untuk BKPRMI di Jawa Barat, saya ingin sukses program Jabar Juara Lahir Batin yang memiliki program Maghrib Mengaji, Shubuh Berjamaah, dan juga tentang Kredit mesta,” ucapnya. (ty)

English for Ulama Diharapkan Cetak Duta Perdamaian Dunia

JAKARTA, Voiceofjabar.com – Pemerintah Daerah Provinsi (Pemdaprov) Jawa Barat akan memberangkatkan lima ulama asal Jabar ke lima kota di Eropa, yakni London, Stockholm, Cardiff, Manchester, dan Birmingham pada 2 November mendatang. Pemberangkatan tersebut merupakan bagian dari program English for Ulama.

Sebelumnya, kelima ulama tersebut, yakni Wifni Yusifa, Ridwan Subagya, Ihya Ulumudin, Safitra, dan Hasan Al-Banna, mengikuti sejumlah seleksi yang dilakukan Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan British Council. Di Eropa, mereka akan berdakwah, dan menceritakan keindahan islam Indonesia.

Gubernur Jabar Ridwan Kamil berbahagia karena program yang bertujuan melatih ulama Jabar agar menguasai bahasa Inggris itu berjalan baik.

“Hari ini saya sangat berbahagia karena sebuah program kerja sama Pemdaprov Jabar, pemerintah Inggris, dan British Council berjalan dengan baik, yaitu program English for Ulama,” katanya saat memberikan arahan kepada kelima ulama tersebut di kantor British Council, Jakarta, Kamis (10/10/19).

Menurut Emil, kelima ulama tersebut nantinya akan berdakwah dan berdiskusi di sejumlah kampus serta komunitas, baik muslim maupun non-muslim, di Eropa. Emil pun berharap mereka dapat mengubah persepsi negatif masyarakat Benua Biru terhadap islam.

“Mereka akan menceritakan keramahan islam Indonesia yang toleran, khususnya di Jabar. Harapannya, persepsi yang ada setelah kunjungan dua minggu ini, akan membawa pengalaman dan pemahaman keislaman di Indonesia oleh Eropa menjadi baik,” kata Emil.

“Seringkali media barat mendapati berita tentang islam yang kurang proporsional dan tidak mewakili keseluruhan. Jadi, islam yang moderat dan damai akan direpresentasikan oleh lima ulama ini dan mereka di masa depan akan jadi duta perdamaian bagi dunia,” imbuhnya.

Selain itu, kelima ulama tersebut akan menceritakan tentang keberagaman budaya Indonesia, khususnya budaya Tanah Pasundan. “Jadi cara bicara, sopan santun, cara merespons harus mempresentasikan sopan santun kita,” ucap Emil.

“Harus percaya diri karena dunia barat itu biasanya butuh orang percaya diri. Ketiga, pahami cara dialog dan ingat cuacanya dingin jadi harus dipersiapkan,” lanjutnya.

Salah satu ulama asal Garut, Wifni Yusifa, menyatakan kesiapannya dalam menuntaskan misi tersebut dengan sebaik-baiknya. “Insyaallah saya siap. Kita di sana mau memperkenalkan betapa indahnya dan damai islam di Indonesia. Kita juga membawa misi budaya Indonesia dan juga ingin membawa banyak ilmu di sana,” katanya. (den)

Program Sadesha Telah Cetak 1.300 Hafidz Quran

KAB. TASIKMALAYA, Voiceofjabar.com –Program Satu Desa Satu Hafidz (Sadesha) yang diluncurkan Pemerintah Daerah Provinsi (Pemdaprov) Jawa Barat terus memperlihatkan perkembangan yang signifikan. Saat ini, sudah ada 1.300 Tahfidz Quran.

“Yang tercatat kami baru ada 1.300 Tahfidz, kebutuhan kami 6.000. Kami akan terus perbanyak agar target terpenuhi, Insyaallah tahun 2020 dengan anggaran baru akan lebih memudahkan,” kata Wakil Gubernur Jabar Uu Ruzhanul Ulum saat menghadiri Wisuda Hafidz dan Binnadhar V 2019 Ponpes Miftahul Quran di Kab. Tasikmalaya, Minggu (6/10/19).

Menurut Uu, 1.300 hafidz tersebut akan disebar ke desa-desa di Jabar untuk membimbing dan melatih masyarakat, termasuk 32 hafidz dari Ponpes Miftahul Quran. “Yang diwisuda ini akan kami rekrut untuk diperbantukan, disebar ke desa lain di Jabar. Untuk melatih dan membimbing masyarakat lainnya agar lebih banyak yang tahfidz lagi sehingga merata,” ucapnya.

Ponpes Miftahul Quran, kata Uu, sudah membatu Pemdaprov Jabar mewujudkan visi Jabar Juara Lahir Batin. Dia pun mengatakan, dengan konsep Pentahelix, pihaknya terus berkolaborasi guna mengakselerasi pembangunan di segala sektor.

“Pesantren ini sudah mewujudkan program Satu Desa Satu Hafidz, karena kami juga punya keterbatasan karena itu saya ucapkan terima kasih telah meringankan program kami dalam mengakselerasi visi misi,” kata Uu.

Uu juga menjelaskan, Pemdaprov Jabar saat ini fokus pembangunan yang bersifat batiniah. Hal itu terlihat dari sejumlah program, seperti English for Ulama, Subuh Keliling, Magrib Mengaji, dan Kredit Mesra. Tujuannya supaya masyarakat Jabar memiliki akidah yang kuat, dan amaliah ahlusunah waljamaan.

“Kami tak ingin juara dalam hal pembangunan yang sifatnya fisik saja tapi juga spiritualitasnya. Juara batin adalah masyarakat Jabar yang kuat akidahnya, syariah, amaliah ahlusunah waljamaah dan kuat harkatnya,” pungkas Uu. (tyo)

Wagub Jabar Buka Pelatihan & Magang Program OPOP

KAB. TASIKMALAYA, Voiceofjabar.com – Wakil Gubernur Jawa Barat Uu Ruzhanul Ulum resmi membuka pelatihan dan magang program One Pesantren One Product (OPOP) gelombang II, yang diikuti 148 orang dari 75 pondok pesantren, di ponpes Al Idrisiyyah, Kab. Tasikmalaya, Jumat (4/10/19).

Menurut Uu, Pemerintah Daerah Provinsi (Pemdaprov) Jabar meluncurkan program OPOP guna mewujudkan Pesantren Juara. Artinya, pesantren di Jabar harus mampu mandiri secara ekonomi.

“Ponpes harus punya kekuatan atau modal, maka santri dan pengurus pesantren harus mengubah pola pikir. Di samping belajar fikih, akidah, dan lainnya, juga menguasai muamalah,” kata Uu.

Uu berharap pesantren yang ada di Jabar dapat menggelar kegiatan pendidikan sampai puluhan tahun. Hal itu dapat diwujudkan apabila pesantren di Jabar bisa memenuhi kebutuhan logistik dan lainnya secara mandiri dengan mengembangkan kewirausahaan.

“Kenapa pesantren di Jawa Timur bisa bertahan hingga ratusan tahun, karena mereka punya restoran, supermarket, penginapan dan jenis usaha lainnya,” ucapnya.

“Minimal dalam 5 tahun kepemimpinan kami, 5000 pesantren sudah melaksanakan OPOP (memiliki produk khas yang dapat dijual kepada masyarakat luas),” imbuhnya.

Pada tahun 2019 atau tahap pertama ini sebanyak 1074 pesantren telah mendaftar melaui online dan lolos tahap seleksi. Mereka mewakili kecamatan di 27 kabulapaten/ kota, yang terbagi kedalam dua kategori yaitu start up dan skill up.

Selanjutnya, mereka mengikuti pelatihan dan magang di ponpes yang sudah ditunjuk Pemdaprov Jabar. Pelaksanaan pelatihan dan magang dibagi dalam tiga gelombang yang berlangsung pada 24 September 2019 sampai 22 Oktober 2019.

Untuk kategori start up, peserta akan mendapatkan materi soal mindset kewirausahaan, pemetaan potensi diri, bisnis plan dan marketing, pemetaan/ strategi pasar, business plan operation, tips dan sharing bisnis di lingkungan pesantren, serta praktik marketing online.

Sedangkan, materi yang disampaikan kepada peserta untuk kategori skill up meliputi pengembangan bisnis, manajemen strategis, analisa SWOT, strategi bisnis, program pemasaran, operasional perusahaan, program keuangan, legal, dan sharing bisnis.

“Narasumbernya pun tak main-main kita hadirkan para praktisi, konsultan, akademisi dan instruktur pesantren,” kata Uu.

“Jadi peserta dibekali pengetahuan dan keterampilan dalam mengelola usaha pesantren terutama bidang manajemen dan skill usaha,”pungkas Uu. (ty)

Uu Paparkan empat indikator pembangunan batiniah

SUKABUMI, Voiceofjabar.com – Pondok Pesantren (Ponpes) merupakan lembaga pendidikan yang dapat memberikan pengalaman spiritualitas kepada peserta didik. Karena selain mendidik peserta didik dari segi keilmuan, Ponpes juga mentransfer ilmu akhlak dan ilmu keagamaan yang tinggi.

Demikian dikatakan Wakil Gubernur Jawa Barat Uu Ruzhanul Ulum saat memberikan sambutan dalam Tasyakkur Milad Ma’had XI dan Haflah Khotmil Qur’an Angkatan XII, sekaligus Menyerahkan Syahadah Hifzhil Qur’an di Villa Adiprima Langensari, Kab. Sukabumi, Minggu (29/9/19).

“Membangun infrastruktur memang bagiannya pemerintah, dan urusan membangun akhlak manusia, saya menghaturkan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada para ulama dengan pesantrennya, yang telah membantu pemerintah dalam pembangunan batiniah,” kata Uu.

Uu juga memaparkan empat indikator pembangunan batiniah. Pertama adalah aqidah. Artinya, fondasi keagamaan masyarakat Jabar kuat. Kemudian, masyarakat Jabar menjalani kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, dengan tenteram serta harmonis. Tujuannya supaya roda pemerintahan dan perekonomian berputar kondusif.

“Ketiga amaliah terjaga. Masyarakat Jabar, harapan kami, tidak melakukan kegiatan-kegiatan yang keluar dari aturan agama, adat istiadat, dan senantiasa mengamalkan kebaikan,” katanya. “Terakhir, kehidupannya barokah, sehingga hadir kesejahteraan, dan terwujudnya Juara Batin,” imbuhnya.

Pada kesempatan yang sama, Uu berpesan kepada para santri Jabar untuk terus menimba ilmu sebanyak-banyaknya supaya dapat bermanfaat bagi nusa, bangsa, dan agama.

“Harus bangga jadi santri,”tutupnya. (red/den)

Selain Hafidz al-Quran, Santri harus Kuasai Teknologi Informasi

KAB. BOGOR, Voiceofjabar.com – Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil bersama Ketua MPR RI Zulkifli Hasan meletakkan batu pertama pembangunan Masjid Jami Jannatul Firdaus dan meresmikan Gedung Asrama Al-Quds di Pondok Pesantren Umar Bin Khattab (UBK) Plus Bogor di Desa Gunung Malang, Kabupaten, Bogor, Rabu (25/9/19).

Emil sempat menggunakan Bahasa Arab dalam pidato sambutannya. Dia mengaku, sudah sepuluh bulan belajar Bahasa Arab.

“Pada kesempatan ini, saya ingin berpidato dalam Bahasa Arab. Karena saya sudah sepuluh bulan les Bahasa Arab,” ucapnya.

Dalam pidatonya, Emil berpesan kepada para santri, khususnya santri UBK Plus Bogor, agar tidak hanya menjadi ahli Alquran, tetapi juga menguasai bidang teknologi informasi, terutama di era industri 4.0.

“Harapan kita semuanya adalah agar (santri) pesantren Umar Bin Khattab Plus ini terus menjadi ladang subur bertumbuhnya santri yang berakhlak mulia,” kata Emil.

“Juga kami berharap di era 4.0 ini (para santri) tidak hanya juara dalam urusan hafidz-nya tapi juga teknologinya. Saya ingat betul nasehat Almarhum Pak Habibie kepada kami, kalau mau selamat dunia akhirat harus gabungkan Iptek dan Imtaq,” imbuhnya.

Emil mengatakan, Pemerintah Daerah Provinsi (Pemdaprov) Jabar serius dalam menangani urusan batiniah. Hal itu terlihat dari sejumlah program seperti Satu Desa Satu Hafidz, Maghrib Mengaji, Shubuh Berjamaah, English for Ulama, Kredit Mesra, dan One Pesantren One Product.

Sementara itu, Ketua MPR RI Zulakifli Hasan menuturkan, salah satu cita-cita Indonesia merdeka dan menjadi fondasi kokoh kehidupan berbangsa dan bernegara adalah mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Dan mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara ini menjadi kewajiban, artinya kewajiban yang diperintahkan konstitusi. Itu kewajiban negara,” kata pria yang akrab disapa Zulhas itu.

“Oleh karena itu, saya berharap (kepada pemerintah daerah) tolong dibantu pondok pesantren kita ini, yang memiliki cita-cita yang luhur (mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara),” tambahnya.

Pondok pesantren UBK Plus Bogor memiliki cita-cita untuk melahirkan generasi Alquran dan ahli teknologi informasi. Kegiatan pokok pengajaran di UBK Plus, yakni Tahfidz Alquran, Teknologi Informasi, Broadcasting, Leadership, dan Entrepreneurship. Dalam berkomunikasi, para santri menggunaka Bahasa Inggris dan Bahasa Arab.

Sedangkan, asrama santri Al Quds dapat menampung hingga 100 orang santri dan akan digunakan untuk kegiatan pesantren weekend. Pesantren weekend UBK Plus Bogor menargetkan para santrinya bisa memperbaiki bacaan sekaligus penghafal Alquran.

Turut hadir dalam acara tersebut para ulama Timur Tengah seperti Wakil Rektor Universitas Islam Madinah Bidang Kepesantrenan Syaikh Kholid Al-Tsubaity, Pendiri Museum Alquran dan Asmaul Husna Madinah Syaikh Tholal. (red/den)

CSRC UIN Jakarta Gelar Training Literasi Keagaamaan di Tasikmalaya

Tasikmalaya, Voiceofjabar.com – Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta bekerjasama dengan PMU CONVEY Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta berkomitmen untuk ikut membantu menciptakan tatanan kehidupan yang lebih damai, sejuk, toleran, dan anti kekerasan di negeri ini.

Sebagai salah satu upaya merealisasikannya adalah dengan menjalankan sebuah program “Pelatihan Literasi Keagamaan untuk Takmir Masjid, Imam, dan Khatib”.

Program ini merupakan upaya CSRC UIN Jakarta dan PMU CONVEY PPIM UIN Jakarta dalam rangka meningkatkan kontribusi dan peran penting takmir masjid, imam, dan khatib dalam upaya mendorong moderasi Islam di Indonesia melalui dakwah yang sejuk Islam rahmatan lil alamin, pro perdamaian, mengedepankan musyawarah, toleransi, dan anti kekerasan.

Para takmir masjid, imam, dan khatib yang akan terlibat dalam program pelatihan ini diharapkan dapat membantu mempromosikan persatuan dalam umat Islam, mencegah terjadinya kekerasan, memediasi konflik antara masyarakat dan kaum Muslim, dan selanjutnya, mempromosikan Islam sebagai agama yang meneduhkan dan mencerahkan bagi sekelilingnya. Pendekatan pelatihan akan bersifat interdisipliner dan antar budaya.

Tujuannya adalah untuk memperkuat pengembangan kapasitas takmir, imam, dan khatib sebagai aktor yang dapat berperan dalam membantu penyebarluasan pengetahuan dan perspektif yang lebih moderat sambil menghubungkannya dengan setiap isu dan wacana kontemporer di lingkungan masjid dan sekitarnya, baik dalam konteks teologis, kebangsaan, maupun kewargaan.

Termasuk juga memperkuat peran mereka sebagai pengelola masjid dalam mengembangkan atmosfer yang lebih positif, moderat dan bernuansa milenial.

Dalam mengawali program ini dan guna memastikan kualitas pelaksanaan program dari sejak awal sampai akhir, hingga saat ini CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta telah melaksanakan serangkaian kegiatan penting.

Pertama, workshop desain program. Kedua,  assessment literasi keagamaan takmir masjid, imam, dan khatib di 7 kota lokasi pelatihan: Banda Aceh, Palembang, Jakarta, Garut & Tasikmalaya, Ambon, Manado, dan Mataram, selama Juli 2018.

Ketiga, workshop pengembangan modul pelatihan. Keempat, penyusunan dan penulisan modul pelatihan literasi keagamaan untuk takmir masjid, imam, dan khatib.

Literasi Keagamaan untuk Takmir Masjid, Imam, dan Khatib yang melibatkan 35 takmir masjid, imam, dan khatib dari 7 kota, dengan tujuan membekali pengetahuan dan keterampilan mereka untuk menjadi trainer.

Hasilnya, 35 takmir masjid, imam, dan khatib tersebut telah siap menjadi TRAINER di kota masing-masing.

Terkait dengan hal tersebut di atas, sebagai tindaklanjut dari serangkaian kegiatan dalam program ini, saat ini CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bekerjasama dengan Mitra Lokal di Tasikmalaya, yakni Yayasasn Al-Misbah Al-Mukhtariyah Tasikmalaya, sedang mempersiapkan dan akan melaksanakan Pelatihan Literasi Keagamaan untuk Takmir Masjid, Imam, dan Khatib.

Kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan wawasan dan pengetahuan para takmir masjid, imam, dan khatib tentang literasi
keagamaan yang sejuk, damai, moderat, toleran, anti kekerasan, dan bernuansa milenial, serta diharapkan juga mampu membekali mereka dengan keterampilan penyampaian materi-materi tersebut dalam kegiatan dakwah yang dijalani.

Kegiatan ini akan melibatkan 30 takmir masjid, imam, dan khatib di Tasikmalaya dan sekitarnya sebagai PESERTA AKTIF, dengan mempertimbangkan komposisi peserta 10 perempuan dan 20
laki-laki, berusia antara 25-35 tahun dengan tingkat pendidikan minimal Strata-1.

TUJUAN
1. Meningkatkan wawasan dan pengetahuan takmir masjid, imam, dan khatib tentang literasi keagamaan yang damai, moderat, toleran, anti kekerasan, dan bernuansa milenial.
2. Melatih dan membekali keterampilan takmir masjid, imam, dan khatib tentang
materi dan teknik-teknik fasilitasi literasi keagamaan dengan pendekatan
partisipatoris.
3. Mendiskusikan isu aktual tentang literasi keagamaan dan sosial kemasyarakatan di masjid dan lingkungan sekitar.
OUTPUT
1. Meningkatnya wawasan dan pengetahuan takmir masjid, imam, dan khatib tentang literasi keagamaan yang damai, moderat, toleran, anti kekerasan, dan bernuansa milenial.
2. Diharapkan dari pelatihan ini dapat menghasilkan takmir masjid, imam, dan
khatib yang dapat menyampaikan materi literasi keagamaan kepada jama’ahnya
dengan pendekatan partisipatoris.
3. Terumuskannya isu aktual tentang literasi keagamaan dan sosial kemasyarakatan di masjid dan lingkungan sekitar. (red)