Bedah Ekonomi Syariah, Ahmad Najib Tekankan Masyarakat harus Tahu Peran & Fungsi Bank Indonesia

0

Bandung, Voiceofjabar.com – Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Barat dan Komisi XI DPR RI selalu berjalan seiring dalam memberikan pemahaman terkait arti penting sistem ekonomi syariah kepada masyarakat.

Kegiatan Pengenalan Ekonomi & Keuangan Syariah dengan tema Peluang Emas Ekonomi dan Keuangan Syariah di Indonesia berulang kali digelar oleh kedua instansi terkait tersebut. Salah satunya di kawasan Ciwidey, Kabupaten Bandung, Selasa, (15/01).

Pada kesempatan itu, Bank Indonesia menghadirkan Ahmad Najib Qodratullah, sebagai anggota DPR RI yang duduk di Komisi Keuangan atau Komisi XI.

Najib mengutarakan bahwa peran dan fungsi Bank Indonesia harus semakin dipahami masyarakat luas. Terutama masyarakat di pelosok. Sehingga mereka tidak salah langkah dalam memecahkan problem keuangan mereka.

“Banyak warga kita tejerembab jadi korban para rentenir. Artinya tidak sedikit masyarakat masih awam tidak mengenal peran dan fungsi Bank Indonesia,”ungkapnya.

Menurutnya, masyarakat wajib tahu bahwa di Bank Indonesia terdapat banyak program untuk membantu mendorong masyarakat di berbagai sektor, baik UMKM, sektor pertanian dan lain-lain. Terlebih mekanisme yang ditawarkan berbasis syariah.

Sebab, lanjut dia, trend perbaikan tatanan ekonomi dengan sistem syariah termasuk ke dalam kategori jihad positif yang sejatinya tak boleh berhenti diperkenalkan dan dipraktikkan langsung oleh masyarakat. Sehingga, masyarakat terbebas dari kekeliruan dalam cara mengelola keuangan.

“Jadi BI tidak hanya bertugas mengatur lalu lintas keuangan, tapi mereka juga punya kepedulian supaya ekonomi masyarakat berjalan cepat. Kita sampai hari ini masih sedikit menerima manfaat dari perbankan. Kita harus tahu ilmunya dulu apalagi di sini (Ciwidey) sebagai kawasan industri wisata,”terangnya.

Sementara itu, Asisten Direktur Kantor Perwakilan Bank Indonesia, Prov Jabar, Aswin Kosotali menerangkan bahwa
Bank Indonesia telah berkomitmen untuk mengembangkan ekonomi syariah di Indonesia dengan menjunjung tinggi prinsip dan nilai-nilai keadilan, kebersamaan, dan keseimbangan.

Nilai-nilai tersebut membentuk perilaku ekonomi yang dapat memperkuat struktur ekonomi domestik seperti mendorong konsumsi terhadap bahan pokok hasil produksi lokal, penguatan basis produksi secara lebih merata, memperkuat basis konsumsi, anti spekulasi serta penyediaan fasilitas pendukung yang mendorong efisiensi dan daya saing nasional.

“Kita membantu masyarakat berproduksi secara syariah, kita bangun ekonomi halal/syariah melalui umkm, pesantren dan lain lain. Jadi, tidak hanya soal peningkatan omset, tapi meningkatkan kebutuhan masyarakat secara halal,”katanya.

Bersama itu, kata dia, minat masyarakat Indonesia terhadap industri halal yang telah berkembang menjadi suatu gaya hidup juga meningkat. Hal tersebut mencakup sektor-sektor ekonomi syariah secara luas seperti makanan halal, fashion syariah, pengobatan dan kosmetik, serta usaha (bisnis) syariah.

“Kita sudah melakukan kemandirian ekonomi di beberapa pesantren, salah satunya dengan Pesantren Al-Ittifa Ciwidey. Tidak hanya meningkatkan produksi, tapi kita menggabungkan dengan sistem syariah, mempertemukan dengan buyer. Harapannya itu bisa berkembang,”tambahnya.

Diketahui, ekonomi dan keuangan syariah Indonesia terus berkembang, antara lain ditandai oleh perkembangan berbagai lembaga keuangan Islam seperti perbankan syariah, takaful, koperasi syariah, dan pasar keuangan syariah, serta berbagai lembaga sosial Islam.

Lebih jauh lagi, untuk mendukung pembangunan infrastruktur nasional, pemerintah dan regulator khususnya Kementerian Keuangan, Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan tengah mempersiapkan rencana pembangunan infrastruktur dengan peran pasar keuangan, termasuk dengan instrumen Sukuk. (red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here