Bantu Bangun Rumah Guru Ngaji, Dedi Mulyadi: Profesi Ustad Harus Dimuliakan

0

Tasikmalaya, Voieofjabar.com – Calon Wakil Gubernur Jawa Barat nomor urut 4, Dedi Mulyadi menemui salah seorang guru ngaji Kampung Nyanggahurip Kelurahan Margabakti, Kota Tasikmalaya, Sabtu, (14/04).

Guru ngaji tersebut bernama Miftah Taufiq (28) asal Pawindan, Kabupaten Ciamis. Auranya tampak tegar. Namun siapa sangka, ustad alumni Pondok Pesantren Miftahul Huda III, Tasikmalaya itu hidupnya penuh liku.

Sebelas tahun lamanya, ia memberikan pendidikan keagamaan di kampung tersebut. Muridnya kini sudah mencapai 95 orang. Mulai dari anak-anak PAUD/TK, SD, SMP, SMA hingga mahasiswa.

Namun selama mengabdi, ia rela bolak balik Ciamis – Tasik setiap hari untuk mengajar. Sebab di tempat ia mengajar, ia tidak memiliki tempat tinggal. Bahkan mengajar pun hanya memanfaatkan tempat alakadarnya karena belum memiliki sarana madrasah halnya di lembaga pendidikan keagamaan lainnya.

Seiring berjalannya waktu, warga pun menaruh iba terhadap kondisi ustad yang baru melepas masa lajang 8 bulan lalu itu.

Berkat keikhlasannya mengabdi, masyarakat setempat berinisiatif rereongan (patungan) membangunkannya rumah layak agar ia bisa menetap di kampung tersebut. Pembangunan rumah sudah berjalan 1 bulan lamanya.

Pantauan kami, garapan rumah belum rampung 100 persen. Baru tahap pondasi dasar berbahan batu bata yang belum dilapisi tembok. Serta sedang berlangsung pemasangan atap genteng.

Kabar tersebut sampai ke telinga Dedi Mulyadi. Ia dan seluruh jajaran kade Golkar Tasikmalaya juga ikut membantu sang ustad. Bahkan, di sela kunjungan tersebut, Dedi menyempatkan waktu gotong royong memasang genteng.

Menurutnya, profesi ustad guru ngaji harus dimuliakan dengan cara disediakan tempat yang memadai bagi kehidupannya.

“Gimana ustad bisa ngajar ngaji dengan tenang kalau rumahnya bocor. Kalau punya rumah permanen kan anak-anak juga bisa belajar di rumahnya dengan baik,”tandasnya.

Dedi menampik aksinya itu dalam rangka pencitraan menjelang pilkada. Ia beralasan membangun rumah layak huni sudah menjadi bagian dari gaya hidupnya selama memimpin, baik di Purwakarta maupun di luar daerah.

“Seorang pemimpin harus memiliki kepekaan terhadap persoalan sosial.
Menyelesaikan masalah itu jangan nunggu selesai pilkada. Selesaikan sekarang selama kita memiliki kekuatan untuk mendorong partisipasi publik. Itu intinya,”tegasnya. (ty)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here