Ahok Dituntut Ringan, KH Maruf Amin Nilai Peran MUI, NU dan Muhammadiyah Dianggap Angin Lalu

0
Foto: Ibenk

Tasikmalaya, Voiceofjabar.com – Kendati sudah menjadi tupoksi para ahli hukum, tuntutan bagi Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok ditanggapi penuh keheranan banyak pihak. Tak terkecuali bagi Rois Am PBNU, KH Ma’ruf Amin. Ia menilai tuntutan hukuman Ahok yang hanya 1 tahun penjara dengan masa percobaan dua tahun sangat tak mendasar.

“Memang itu sudah menjadi urusan para ahli hukum. Cuma yang saya heran pendapat mana yang dipakai oleh jaksa itu. Padahal MUI sudah mengatakan itu termasuk penghinaan agama, NU juga sepakat jika itu adalah penghinaan Al-Quran, bahkan menyesatkan umat. Muhammadyah juga sama,”terangnya kepada wartawan usai menghadiri pelantikan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Tasikmalaya di Pondok Pesantren Cipasung, Rabu, (26/4).

Jika majelis hakim memaksakan mengabulkan tuntutan tersebut, kata Kyai Ma’ruf, artinya majelis hakim hanya memutuskan sesuatu berdasarkan rujukan alasan yang tidak jelas. Yang artinya sekaligus pula menafikan keberadaan MUI, NU dan Muhammadiyah itu sendiri. Sebab ketiga lembaga ini menyepakati kasus penodaan Agama oleh Ahok sebagai kasus besar yang ganjarannya harus berbanding lurus. Maksimal dan memberi efek jera.

“Kalau tiga lembaga kredibel ini sudah mengatakan seperti itu, lalu hukumannya tidak sesuai, kalau gitu, dia sudah mendelegitimasi keberaadaan MUI, NU dan Muhammadiyah,”katanya.

Sebagaimana diketahui, Ahok dituntut hukuman penjara selama 1 tahun dengan masa percobaan dua tahun. Jaksa merujuk pasal 156 dan pasal 156a KUHP.

Pasal 156 mengatur tentang seseorang yang dengan sengaja menyatakan perasaan permusuhan, kebencian, atau penghinaan terhadap suatu atau beberapa golongan rakyat Indonesia.

Sementara, pasal 156 a mengatur seseorang yang secara spesifik mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan yang pada pokoknya bersifat permusuhan, penyalahgunaan, atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia.

Kasus ini bermula pada Selasa, 27 September 2016, ketika Ahok berpidato di tempat di tempat pelelangan ikan di Pulau Pramuka, Kelurahan Pulau Panggang, Kepulauan Seribu. (ty)

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here